Investor dari Amerika Serikat mendominasi kepemilikan obligasi global perdana yang diterbitkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, menandai pergeseran signifikan dalam peta investasi surat utang Indonesia. Hasil rangkaian roadshow ke berbagai pusat keuangan dunia menunjukkan bahwa investor Negeri Paman Sam muncul sebagai peminat paling masif, menggeser tren historis di mana obligasi asal Indonesia biasanya lebih banyak diserap pasar Asia. Dominasi ini terlihat sangat mencolok, terutama pada instrumen jangka panjang yang ditawarkan lembaga pengelola investasi kedaulatan tersebut.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa keterlibatan institusi keuangan AS memberikan sinyal kuat mengenai tingginya kepercayaan pasar global terhadap stabilitas ekonomi nasional. Tim delegasi Danantara telah melakukan kunjungan intensif ke berbagai negara pusat finansial sejak 3 Juni lalu. Upaya jemput bola ini menyisir Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga berakhir di New York untuk meyakinkan para pemegang modal kakap mengenai profil risiko Indonesia yang tetap terjaga.
"Peminat terbesarnya terutama yang 10 tahun, di mana 52 persen yang subscribe dari bond kita adalah berasal dari Amerika Serikat," ujar Rosan dalam keterangannya di Istana Negara Jakarta, Senin (15/6/2026).
Data distribusi pemodal menunjukkan pergeseran peta kekuatan investasi yang cukup signifikan dibandingkan penerbitan surat utang negara sebelumnya. Untuk tenor 5 tahun, investor asal AS menyerap 38 persen, disusul oleh gabungan investor Eropa dan Timur Tengah sebesar 41 persen, serta Asia 21 persen. Sementara itu, pada tenor 10 tahun, dominasi AS kian tak terbendung dengan angka 52 persen, jauh mengungguli pasar Eropa dan Timur Tengah di posisi 31 persen, serta Asia yang hanya menyerap 17 persen.
Pencapaian ini dipandang luar biasa mengingat kondisi pasar modal domestik dan nilai tukar rupiah sedang berada dalam tekanan saat penawaran dilakukan. Namun, Danantara memilih untuk tetap melangkah guna menguji daya tarik aset strategis Indonesia sekaligus mensosialisasikan berbagai kebijakan ekonomi positif yang telah diimplementasikan pemerintah. Strategi tersebut menjaring minat sebanyak 122 investor institusional dari berbagai belahan dunia selama periode roadshow.
Meskipun target awal penghimpunan dana hanya dipatok sebesar USD1 miliar, total penawaran yang masuk melalui proses book building justru meluap hingga menyentuh angka USD4,6 miliar. "Karena animo yang begitu tinggi, akhirnya kami melakukan upsize atau meningkatkan nilai emisi dari USD1 miliar menjadi USD1,5 miliar," kata Rosan.
Tingginya minat investor AS dan Eropa juga berdampak langsung pada penetapan bunga atau yield yang menjadi jauh lebih kompetitif bagi kas negara. Untuk obligasi tenor 5 tahun senilai USD750 juta, tingkat bunga dikunci pada level 5,35 persen, sementara untuk tenor 10 tahun dengan nilai yang sama, bunganya ditetapkan di angka 5,95 persen. Capaian imbal hasil ini berada jauh di bawah ekspektasi awal para investor yang sempat memperkirakan bunga akan bertengger di kisaran 6 hingga 7 persen.
Rendahnya yield yang diminta oleh para pemodal ini diartikan bahwa profil kredit Danantara dinilai sangat solid, sejalan dengan peringkat Investment Grade yang diberikan oleh lembaga Moody’s, S&P, dan Fitch. Selain itu, profil risiko Danantara yang setara dengan sovereign rating pemerintah Indonesia menjadi jaminan keamanan bagi para manajer investasi global dalam mengalokasikan dana mereka.
"Kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia sangat baik, ini tercermin dari mereka bersedia membeli global bond Danantara dan bahkan menyatakan sangat terbuka apabila kita ingin menerbitkan sampai tenor 30 tahun," kata Rosan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Utusan Khusus Emir Qatar, Bahas Investasi Rp64 Triliun dan Kunjungan Kenegaraan
Dhyo Haw Hipnotis Ribuan Pengunjung PRJ 2026 dengan Musik Reggae
Minat Investor AS Melonjak, Danantara Jajaki Penerbitan Obligasi Global Tenor 30 Tahun
Komisi IX DPR Buka Alasan Rapat Bareng BGN Digelar Tertutup: Anggaran Belum Final