Fase krusial operasional haji di kawasan Mina mulai berangsur usai pada 12 Zulhijah, seiring rampungnya lontar jumrah hari kedua Tasyrik. Mayoritas jemaah haji Indonesia memutuskan untuk mengambil Nafar Awal dan segera kembali ke pemondokan di wilayah Makkah.
Sejak pagi hari, pemandangan tenda-tenda yang mulai kosong dan jemaah yang menggeret koper mewarnai seluruh maktab Indonesia. Mereka bergerak teratur menuju halte darurat untuk menaiki bus yang telah disiagakan oleh otoritas penyelenggara haji. Pergerakan besar-besaran ini melibatkan sekitar 68 persen dari keseluruhan tamu Allah asal Nusantara.
Kasi Akomodasi Daker Madinah, Zaenal Muttaqin, menyatakan bahwa penyapuan jemaah dari Mina telah dikondisikan secara rapi sejak subuh. "Mulai pukul 6 sudah mulai ada pergerakan naik bus, jadi jam setengah 7 atau jam 7 sudah mulai meninggalkan Mina," kata Zaenal kepada Tim Media Center Haji.
Keberangkatan yang diinisiasi lebih awal ini murni untuk menghindari penumpukan armada di pintu-pintu keluar kawasan Mina. Tercatat sebanyak 424 kelompok terbang (kloter) secara bertahap dievakuasi, membelah padatnya jalanan Arab Saudi. "Untuk jemaah yang meninggalkan Mina dari Nafar Awal ini kurang lebih sekitar 68 persen atau 132.568 jemaah," ujar Zaenal memberikan data statistik pergerakan jemaah.
Tingginya minat jemaah mengambil Nafar Awal umumnya didorong oleh keinginan untuk segera beristirahat di fasilitas hotel pasca-puncak haji. Mereka memilih memulihkan tenaga sebelum merampungkan rukun Tawaf Ifadah di Masjidil Haram yang juga menyedot fisik ekstra. Namun, keputusan ini diikat oleh batas waktu syariat yang tidak bisa ditawar. Seluruh jemaah dalam 424 kloter tersebut mutlak harus berada di luar perbatasan Mina sebelum matahari terbenam.
Oleh karena itu, pemerintah mengatur jadwal pemberhentian ritme bus terakhir pada pukul 14.00 hingga maksimal pukul 17.00 waktu setempat. Keterlambatan hitungan menit akibat terjebak kemacetan di dalam Mina akan berakibat fatal pada status ibadah Nafar Awal jemaah. "Jadi mereka harus sudah keluar dari Mina sebelum Gurub Asy-Syams atau terbenamnya matahari," kata Zaenal mengingatkan aturan fikih.
Jemaah yang tertahan di Mina melewati waktu magrib secara otomatis akan gugur status Nafar Awalnya. Negara mewajibkan mereka untuk kembali ke tenda dan menjalani mabit tambahan atau yang dikenal dengan Nafar Tsani. Operasi evakuasi darat ini berjalan dengan ritme yang ketat dan pengawalan melekat dari aparat pelindungan jemaah. Kedisiplinan jadwal menjadi kunci tunggal keselamatan ibadah sekaligus logistik ratusan ribu jemaah di Tanah Suci.
Artikel Terkait
Baznas Salurkan Daging Dam Haji ke Warga Kurang Mampu di Pemalang
Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen
Israel Tutup Paksa Masjid Ibrahimi di Hebron Tanpa Batas Waktu, Palestina Kecam Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Satgas Desak Kementerian Percepat Administrasi dan Revisi Anggaran demi Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera