Anggapan bahwa melewatkan waktu makan merupakan strategi efektif untuk menurunkan berat badan ternyata keliru. Para ahli kesehatan justru memperingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat menjadi bumerang dan menghambat proses penurunan berat badan yang diinginkan.
Kepala Departemen Kesehatan Preventif di VLCC Healthcare, dr Anju Ghei, menegaskan bahwa mengontrol pola makan tidak identik dengan meniadakan waktu makan. Menurutnya, banyak orang terjebak dalam kesalahpahaman ini karena berpikir bahwa mengurangi frekuensi makan secara otomatis akan mengurangi asupan kalori dan menurunkan berat badan.
"Padahal, tubuh manusia mengatur energi dengan cara yang jauh lebih kompleks. Inilah sebabnya penting untuk memahami perbedaan antara melewatkan makan secara acak dan puasa terstruktur," jelas dr Ghei dalam pernyataannya yang dikutip dari laman Hindustan Times pada Kamis (28/5/2026).
Dokter Ghei menjelaskan, ketika tubuh menerima asupan makanan yang sedikit dan tidak teratur, respons yang muncul justru berlawanan dengan ekspektasi. Alih-alih langsung membakar lemak, tubuh justru menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman dan mulai menghemat energi. Akibatnya, laju metabolisme basal menurun sehingga pembakaran kalori sepanjang hari menjadi lebih sedikit.
Sementara itu, kondisi ini juga memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol. Peningkatan kortisol dalam jangka panjang diketahui dapat mendorong penumpukan lemak, terutama di area perut. Di sisi lain, hormon lapar atau ghrelin juga ikut terpengaruh. Rasa lapar akan meningkat secara signifikan ketika tubuh melewatkan jam makan secara tidak teratur, sehingga berpotensi memicu pola makan yang tidak terkendali di kemudian hari.
Artikel Terkait
Ekspor Minyak Kelapa Indonesia 2025: Nilai Melonjak 43% Meski Volume Turun, Pangsa Pasar Global Kokoh di Peringkat Kedua
Kemenkeu Bantah Hoaks Akun Palsu Mengatasnamakan Menteri Keuangan yang Tawarkan Dana Bantuan
Prabowo-Macron Resmikan Dewan Bisnis Indonesia-Prancis, Hasilkan Kesepakatan Rp61,25 Triliun
Rano Karno Dapat Izin Pakai Gedung Jasindo di Kota Tua untuk Percepat Revitalisasi