China Salip Jepang Jadi Negara Kreditur Terbesar Kedua di Dunia pada 2025

- Selasa, 26 Mei 2026 | 13:35 WIB
China Salip Jepang Jadi Negara Kreditur Terbesar Kedua di Dunia pada 2025

China resmi menyalip Jepang sebagai negara kreditur terbesar kedua di dunia pada tahun 2025, menandai perubahan signifikan dalam peta kekuatan ekonomi global. Posisi ini diraih setelah nilai aset eksternal bersih Negeri Tirai Bambu melesat lebih cepat dibandingkan Jepang, yang selama puluhan tahun mendominasi peringkat tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis Bloomberg pada Selasa (26/5/2026), aset eksternal bersih Jepang memang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, mencapai 3,5 triliun dolar AS pada akhir 2025. Namun, angka tersebut masih kalah dari China yang berhasil mengumpulkan aset bersih hingga 4,1 triliun dolar AS dalam periode yang sama.

Pergeseran ini bukanlah yang pertama kali dialami Jepang. Setahun sebelumnya, Negeri Sakura tersebut sudah kehilangan posisi sebagai negara kreditur terbesar di dunia setelah dikalahkan oleh Jerman. Padahal, Jepang telah memegang gelar tersebut selama 34 tahun berturut-turut.

Aset luar negeri bersih suatu negara, secara sederhana, merupakan selisih antara nilai aset di luar negeri yang dimiliki oleh penduduk suatu negara dengan nilai aset domestik yang dimiliki oleh warga negara asing, setelah disesuaikan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang. Angka ini pada dasarnya mencerminkan akumulasi saldo neraca transaksi berjalan suatu negara dari waktu ke waktu.

Kementerian Keuangan Jepang menjelaskan bahwa posisi China dan Jerman yang lebih kuat tersebut didorong oleh surplus neraca transaksi berjalan yang lebih besar, terutama yang ditopang oleh kinerja perdagangan. Sementara itu, pertumbuhan aset bersih Jepang yang lebih lambat juga dipengaruhi oleh meningkatnya nilai aset domestik yang dimiliki oleh investor asing.

Fenomena ini, menurut analisis kementerian, sebagian besar dipicu oleh penguatan harga saham Jepang yang secara langsung meningkatkan nilai kewajiban atau liabilitas negara terhadap pihak asing. Akibatnya, posisi bersih Jepang menjadi tidak setinggi pertumbuhan aset kotornya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar