15 Ribu Ton Beras dari Tiongkok Tiba di Kuba di Tengah Krisis Bahan Bakar dan Tekanan Ekonomi

- Selasa, 26 Mei 2026 | 02:45 WIB
15 Ribu Ton Beras dari Tiongkok Tiba di Kuba di Tengah Krisis Bahan Bakar dan Tekanan Ekonomi

Sebanyak 15 ribu ton beras dari Tiongkok telah tiba di Kuba di tengah tekanan ekonomi dan krisis bahan bakar yang masih melanda negara Karibia tersebut. Pengiriman bantuan pangan itu dilaporkan telah sampai di Pelabuhan Havana pada Sabtu, 23 Mei 2026, sebagaimana diberitakan oleh media pemerintah Tiongkok.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Bermudez, mengonfirmasi penerimaan bantuan tersebut dan memberikan apresiasi tinggi terhadap hubungan persahabatan serta kerja sama erat antara Havana dan Beijing. Dalam unggahannya di platform media sosial X, Diaz-Canel menulis bahwa solidaritas “mulia” dari Tiongkok akan membantu jutaan konsumen di seluruh Kuba, termasuk sektor kesehatan dan pendidikan.

Pengiriman tahap pertama ini merupakan bagian dari paket bantuan pangan yang lebih besar, di mana Tiongkok berkomitmen untuk mengirimkan total 60 ribu ton beras ke Kuba. Sisa bantuan dijadwalkan akan dikirim secara bertahap dalam waktu mendatang.

Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk Kuba, Hua Xin, hadir dalam seremoni serah terima bantuan tersebut. Ia menyebut pengiriman ini sebagai bagian penting dari paket dukungan Beijing untuk Havana dan mencerminkan kerja sama kedua negara di tengah situasi internasional yang kompleks. Hua juga menegaskan bahwa Tiongkok akan terus memperkuat kerja sama praktis dengan Kuba serta mendukung kedaulatan dan martabat nasional negara itu.

Di sisi lain, Tiongkok berulang kali menyuarakan penentangannya terhadap tekanan yang diberikan Amerika Serikat kepada Kuba. Beijing secara konsisten menyerukan pencabutan sanksi dan pembatasan yang diberlakukan terhadap negara tersebut. Krisis yang dihadapi Kuba saat ini semakin parah setelah embargo minyak dari AS diberlakukan pada 30 Januari lalu, yang memicu kekurangan listrik dan pemadaman bergilir di berbagai wilayah.

Presiden AS, Donald Trump, beberapa kali menyatakan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran. Ia bahkan mengklaim bahwa negara pulau tersebut akan segera runtuh di bawah tekanan yang ada.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags