Aktivis Australia yang Ditahan Israel di Misi Kemanusiaan Gaza Laporkan Kekerasan dan Pelecehan Seksual

- Senin, 25 Mei 2026 | 18:45 WIB
Aktivis Australia yang Ditahan Israel di Misi Kemanusiaan Gaza Laporkan Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Sejumlah aktivis Australia yang ditahan Israel saat mengikuti misi bantuan kemanusiaan menuju Gaza akhirnya kembali ke tanah air. Mereka membawa cerita kelam tentang kekerasan yang dialami selama masa penahanan, mulai dari pemukulan hingga pelecehan seksual.

Sebanyak 11 warga Australia tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 bersama sekitar 430 relawan dari 40 negara. Pasukan Israel mencegat rombongan tersebut di perairan internasional pekan lalu, sebelum akhirnya menahan seluruh peserta.

Salah satu aktivis, Juliet Lamont, tiba di Melbourne pada Minggu malam, 24 Mei 2026. Pembuat film dokumenter itu mengaku menjadi korban kekerasan fisik dan seksual sejak awal penahanan. “Itu baru awal dari empat hari yang benar-benar seperti neraka,” ujarnya.

Lamont juga menyaksikan langsung perlakuan yang dinilainya tidak manusiawi terhadap peserta flotilla lainnya. Ia menyebut aparat Israel menyeretnya, melecehkannya secara seksual, dan memukulinya tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, aktivis lain, Sam Woripa Watson, mengalami patah tulang rusuk serta luka memar dan sayatan di beberapa bagian tubuh. Ia menuturkan bahwa sejumlah peserta flotilla disetrum menggunakan alat kejut listrik, ditembak peluru karet, dan dilempari granat kejut oleh aparat Israel.

Penyelenggara misi, Global Sumud Flotilla, mengklaim telah mendokumentasikan sedikitnya 15 kasus dugaan pelecehan seksual terhadap peserta. Menurut organisasi tersebut, kekerasan paling parah terjadi di kapal pendarat milik Israel yang diubah menjadi penjara darurat menggunakan kawat berduri dan kontainer pengiriman.

Di sisi lain, otoritas penjara Israel membantah seluruh tuduhan terkait kekerasan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual terhadap para aktivis. Namun, kasus ini memicu gelombang tekanan internasional setelah beredarnya video Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang terlihat mengejek para aktivis dalam kondisi diborgol.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut rekaman tersebut sebagai sesuatu yang mengejutkan dan tidak dapat diterima. Sebelumnya, Australia telah menjatuhkan larangan perjalanan dan sanksi finansial terhadap Ben-Gvir atas tuduhan menghasut kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags