Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa sebagian besar kesepakatan dengan Iran telah selesai dirundingkan dan kini tinggal menunggu proses finalisasi. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social, setelah ia melakukan panggilan telepon dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan Timur Tengah. Trump menambahkan bahwa kesepakatan tersebut, yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara lain di kawasan, mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa ia berada di Ruang Oval Gedung Putih saat melakukan panggilan yang dinilainya sangat baik terkait Republik Islam Iran. Ia menyebut bahwa sebuah perjanjian telah sebagian besar dinegosiasikan dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Iran, dan berbagai negara lain. “Aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut saat ini sedang dibahas, dan akan segera diumumkan. Selain banyak elemen lain dari perjanjian, Selat Hormuz akan dibuka,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Para pemimpin yang turut serta dalam panggilan telepon tersebut berasal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain. Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan menyebut pembicaraan itu berjalan sangat baik. Sementara itu, sebelumnya pada hari yang sama, Trump sempat menyatakan kepada media bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih berada pada posisi “50/50”, berdasarkan laporan dari Axios.
Dalam wawancara terpisah dengan CBS News, Trump menegaskan bahwa para negosiator semakin mendekati penyelesaian persyaratan kesepakatan. “Setiap hari semakin baik dan lebih baik,” ujarnya. Ia juga menyatakan harapannya agar kesepakatan akhir dapat mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, serta memastikan bahwa uranium yang diperkaya oleh negara itu akan ditangani dengan cara yang memuaskan.
Di sisi lain, para mediator melaporkan bahwa mereka hampir mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara AS dan Iran selama 60 hari. Kesepakatan itu juga akan disertai dengan peta jalan untuk negosiasi mengenai program nuklir Teheran. Financial Times, mengutip sumber yang mengetahui jalannya diskusi, menyebutkan bahwa pengaturan yang diusulkan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, negosiasi pengurangan atau relokasi cadangan uranium yang diperkaya Iran, serta langkah-langkah dari Washington untuk melonggarkan pembatasan pada pelabuhan Iran dan memberikan keringanan sanksi.
Namun, sikap tegas tetap ditunjukkan oleh pihak Iran. Negosiator utama Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan kepada Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, bahwa tidak akan ada kompromi atas apa yang ia sebut sebagai hak-hak bangsa dan negara Iran. Pernyataan itu mempertegas posisi Teheran di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung.
Artikel Terkait
Mensos Gus Ipul Pastikan Sekolah Rakyat Katingan Tampung 1.000 Siswa, Rampung Juni 2026
Kredit BPD Tumbuh 1,59 Persen, OJK Dorong Penguatan Lewat Roadmap 2024–2027
Petrokimia Gresik Amankan Pasokan Gas Tambahan 35 MMSCFD untuk Jaga Produksi Pupuk Nasional hingga 2035
Kemnaker Luncurkan KarirHub, Jembatani Alumni Magang ke Pasar Kerja