Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi bahwa seluruh warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2026 saat ini ditahan oleh pasukan militer Israel setelah kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang mereka tumpangi dicegat di perairan internasional dekat Siprus sejak Senin, 18 Mei 2026.
Penangkapan terhadap sembilan WNI tersebut berlangsung dalam tiga gelombang berbeda. Pada hari pertama, lima orang ditangkap dari tiga kapal, yakni Bolarize, Ozgurluk, dan Josef. Mereka yang ditahan adalah Bambang Noroyono, jurnalis Republika di kapal Bolarize; Andrea Pastio dari Tempo, Thoudy Badai, fotografer Republika, serta Rahendro Herubowo di kapal Ozgurluk; dan Andi Angga, aktivis kemanusiaan di kapal Josef.
Gelombang kedua terjadi pada Selasa malam, ketika dua relawan Dompet Dhuafa, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu, ditangkap saat berada di Kapal Zapyro. Dua WNI terakhir, Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqso dan Hendro Prasetyo, relawan Smart 171, menyusul ditahan di atas kapal Kasr-1.
Aktivis kemanusiaan Muhammad Husein mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi dari tim pengacara Global Sumud Flotilla, para WNI kini berada di Ashdod, Israel. Meskipun lokasi penahanan telah diketahui, akses untuk memantau kondisi kesehatan dan keselamatan mereka masih sangat terbatas karena pihak Israel belum memberikan izin penuh.
"Sejauh ini belum ada kabar pasti tentang bagaimana kondisi mereka, kesehatan mereka, kita terus menunggu dan memantau bagaimana kondisi mereka," jelas Husein.
Sebelum ditangkap, para aktivis sempat merekam pesan video yang menyatakan bahwa misi mereka bersifat sipil dan tanpa kekerasan, bertujuan menembus blokade ilegal di Gaza. Dalam pesan tersebut, mereka memohon kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan mereka sesuai hukum yang berlaku. "Jika video ini ditonton, berarti saya telah diculik oleh tentara Zionis di perairan internasional," ujar Ronggo Wirasano, salah satu relawan, dalam rekaman itu.
Menanggapi insiden ini, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan bahwa pemerintah terus memaksimalkan jalur diplomatik untuk memastikan perlindungan penuh bagi para WNI. Karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel, komunikasi dilakukan melalui negara pihak ketiga. "Kami sudah berkomunikasi dengan rekan-rekan dari Kementerian Luar Negeri Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi rekan-rekan kita yang ditahan oleh Israel," ujar Menlu Sugiono.
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menegaskan bahwa negara hadir melindungi setiap WNI di mana pun mereka berada, termasuk mereka yang saat ini dalam penahanan Zionis Israel dan empat WNI yang menjadi sandera perompak di Somalia. "Percayalah bahwa negara pasti hadir bertanggung jawab atas keselamatan warga negara kita di luar negeri," jelasnya.
Sementara itu, aksi solidaritas merebak di sejumlah kota di Indonesia, seperti Bandar Lampung dan Bandung, sebagai bentuk kecaman atas tindakan militer Israel. Massa menilai penangkapan jurnalis dan relawan ini merupakan pelanggaran berat hukum internasional karena dilakukan di perairan internasional terhadap misi kemanusiaan sipil. Misi Global Sumud Flotilla sendiri bertujuan membuka koridor bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang mengalami genosida dan kelaparan selama beberapa tahun terakhir, dan para aktivis menegaskan bahwa fokus dunia tidak boleh teralihkan dari penderitaan warga Palestina di Gaza.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak, Buka Puasa, dan Salat untuk Surabaya dan Sekitarnya pada Kamis, 21 Mei 2026
KPK Ubah Strategi: Tersangka Baru Ditetapkan Setelah Penyidikan Rampung
Terminal Kampung Rambutan Gencarkan Pemilahan Sampah demi Kurangi Beban TPST Bantargebang
Putin Tiba di Beijing untuk Perkuat Kemitraan Strategis dengan China di Tengah Ketegangan Global