Puluhan kapal yang membawa misi kemanusiaan untuk warga Gaza dicegat oleh angkatan laut Israel di perairan internasional Mediterania, Senin (18/5/2026). Dalam insiden tersebut, sedikitnya 100 aktivis dari berbagai negara, termasuk lima warga negara Indonesia (WNI), dilaporkan ditahan oleh pasukan Zionis.
Armada yang dikenal dengan nama Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 ini terdiri dari lebih dari 50 kapal sipil tak bersenjata. Misi mereka adalah menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Total 426 peserta dari 40 negara turut serta dalam pelayaran ini, termasuk delegasi dari Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Afrika Selatan, hingga Indonesia.
Kapal-kapal tersebut berangkat dari distrik Marmaris, Turki, pada Kamis (14/5/2026) pekan lalu. Muatan mereka berupa bantuan pangan, seperti susu bayi, serta perlengkapan medis yang ditujukan bagi warga Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat gempuran dan blokade berkepanjangan.
Namun, ketika memasuki perairan sebelah barat Siprus sekitar pukul 10.30 waktu setempat, armada tersebut disergap oleh tentara Israel. Sejumlah siaran langsung dari dalam kapal memperlihatkan personel Angkatan Laut Israel menyerang dan menaiki kapal satu per satu secara paksa.
“Global Sumud Flotilla sedang diserang! Israel sekali lagi secara ilegal dan dengan kekerasan mencegat armada kapal-kapal kemanusiaan kami dan menculik relawan kami di perairan internasional,” tulis penyelenggara GSF dalam pernyataan resmi di media sosial.
Di antara peserta yang ikut dalam misi ini terdapat dua jurnalis Indonesia, yakni Bambang Noroyono dari Republika dan Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV. Sebelum komunikasi terputus, Bambang sempat mengunggah posisi terakhirnya di sebelah barat Siprus dan mengirimkan pesan video meminta bantuan.
“Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026. Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel,” ucapnya dalam rekaman tersebut.
Andre Prasetyo juga mengirimkan pesan darurat berdurasi 53 detik. “Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel,” katanya.
Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengonfirmasi bahwa lima WNI ditangkap dalam insiden ini. Mereka adalah aktivis Andi Angga Prasadewa, serta jurnalis Bambang Noroyono, Thoudy Badai, Andre Prasetyo, dan Heru Rahendro. Sementara itu, empat WNI lainnya yang berada di dua kapal berbeda masih berlayar di sekitar perairan Siprus dalam kondisi rawan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengecam keras tindakan Israel. Dari data yang dihimpun, sedikitnya sepuluh kapal misi kemanusiaan telah ditahan, termasuk kapal bernama Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Dalam kapal Josef, terdapat satu WNI, yaitu Andi Angga Prasadewa, delegasi GPCI Rumah Zakat.
“Kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih belum dapat dihubungi dan belum diketahui statusnya,” ujar juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang.
Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera membebaskan seluruh kapal dan aktivis yang ditahan. “Serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional,” tambah Yvonne.
Kemlu juga telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah perlindungan dan kemungkinan pemulangan WNI. Situasi di lapangan disebut masih sangat dinamis dan terus berkembang.
Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan bahwa keselamatan dua jurnalisnya harus menjadi perhatian serius. Ia mengecam intersepsi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan universal.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid juga mengecam keras tindakan militer Israel. Ia menekankan bahwa jurnalis hadir untuk menyampaikan fakta dan suara kemanusiaan, sehingga kerja jurnalistik perlu dihormati dan diberikan ruang aman. Kemkomdigi menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kemlu untuk memantau perkembangan.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR Saan Mustopa meminta pemerintah segera memastikan keselamatan seluruh WNI. “Saya yakin pemerintah juga akan menaruh perhatian yang besar atas peristiwa ini,” ujarnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin mendesak Kemlu untuk mengaktifkan jalur diplomasi back-channel dan memanfaatkan instrumen multilateral. “Indonesia perlu menggalang dukungan di Dewan Keamanan PBB, serta meminta Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melakukan intervensi langsung,” tegasnya.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat meminta pemerintah menggunakan jalur diplomatik untuk membebaskan para wartawan dan warga sipil lainnya yang ditangkap. “Termasuk membantu pemulangannya ke Indonesia,” tulisnya dalam keterangan tertulis.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memuji aksi pencegatan tersebut. Ia menyebut operasi itu telah menggagalkan rencana jahat untuk menerobos blokade terhadap Hamas di Gaza. “Anda melaksanakannya dengan sangat sukses. Lanjutkan hingga akhir,” kata Netanyahu kepada komandan militernya.
Kemlu Israel mengecam konvoi GSF sebagai bentuk provokasi. Juru bicara Kemlu Israel, Oren Marmorstein, membantah adanya bantuan kemanusiaan di kapal-kapal yang dicegat. “Sejauh ini, belum ditemukan bantuan kemanusiaan di kapal-kapal mereka,” klaimnya. Ia juga menyangkal bahwa Gaza kekurangan bantuan, dengan menyebut lebih dari 1,58 juta ton bantuan telah masuk sejak Oktober lalu.
Artikel Terkait
UEA Berhasil Cegat Enam Drone Asal Irak yang Targetkan PLTN Barakah
Polda Riau Tetapkan PT Musim Mas Tersangka Korporasi Perusak Lingkungan, Pegiat Dorong Penegakan Hukum ke Perusahaan Sawit Lain
Laba Bersih SeaBank Melonjak 288 Persen di Kuartal I-2026, Tembus Rp375,6 Miliar
Kemendagri Salurkan Rp1 Triliun Insentif Fiskal untuk Daerah Berprestasi di Maluku dan Nusa Tenggara