Pertemuan Trump-Xi Dinilai Jadi Momentum Redakan Ketegangan Global dan Tekan Ambisi Nuklir Iran

- Senin, 18 Mei 2026 | 07:35 WIB
Pertemuan Trump-Xi Dinilai Jadi Momentum Redakan Ketegangan Global dan Tekan Ambisi Nuklir Iran

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, di Beijing baru-baru ini dinilai menjadi tonggak penting yang berpotensi mengubah peta dinamika politik global. Momen langka yang mempertemukan dua pemimpin negara adidaya ini tidak hanya menjadi ajang diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga membawa implikasi strategis bagi stabilitas keamanan dunia.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai bahwa pertemuan tersebut memberikan angin segar bagi ketenangan hubungan internasional. Menurutnya, forum ini menjadi ruang vital bagi kedua negara untuk meredakan ketegangan yang selama ini muncul akibat persaingan pengaruh di berbagai kancah global.

“KTT kedua negara adikuasa ini baik bagi dunia karena menghindari kesalahpahaman jika keduanya bersaing dan saling mengalahkan. Padahal, keduanya masih menyimpan potensi kerja sama,” ujar Teuku saat dihubungi pada Senin (18/5/2026).

Dalam analisisnya, Teuku menyoroti urgensi kepentingan Amerika Serikat yang membutuhkan peran China dalam menekan Iran. Salah satu hasil konkret dari pertemuan tersebut adalah kesepakatan bersama untuk melarang Iran memiliki senjata nuklir. Lebih dari itu, Teuku menilai China berpotensi menjadi fasilitator yang menjembatani perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

“Sebagai adikuasa yang sedang naik daun, China cukup mengetahui permintaan Amerika Serikat. Namun, dalam praktiknya nanti, mereka akan menyaring seluruh butir permintaan tersebut dalam sebuah bingkai yang fleksibel, guna selanjutnya dikomunikasikan dengan Iran,” jelasnya.

“Bingkai tersebut memuat kepentingan nasional jangka panjang China, berisi prinsip-prinsip hukum internasional yang berbasis peradaban dunia yang tinggi, yang dimengerti oleh Iran sebagai sesama negara yang juga berperadaban tinggi,” sambungnya.

Di sisi lain, Teuku melihat bahwa pertemuan hangat antara Trump dan Xi Jinping justru menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang rumit dalam pusaran konflik China dan Taiwan. Ia menilai, keakraban yang tercipta dalam pertemuan tersebut secara tidak langsung mempersulit langkah Washington untuk memberikan dukungan militer secara terbuka kepada Taiwan.

“Karena AS telah melihat kebangkitan China yang luar biasa secara ekonomi, diplomasi, dan pertahanan keamanan. Dengan demikian, akan semakin sulit bagi AS mendukung Taiwan secara militer, termasuk melakukan latihan militer dengan Taiwan dan sekutunya di Jepang dan Korea Selatan,” katanya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar