Praktik meramal telah mengakar dalam peradaban manusia sejak ribuan tahun silam. Pada era Kekaisaran Romawi, misalnya, terdapat tradisi unik yang melibatkan ayam sebagai alat untuk meramalkan nasib di medan perang. Kisah ini terekam dalam arsip lembaga sejarah maritim Amerika Serikat dan menjadi salah satu catatan paling dramatis tentang konsekuensi mengabaikan pertanda.
Menurut catatan filsuf Cicero, pada tahun 249 Sebelum Masehi, Publius Claudius Pulcher diangkat sebagai konsul dan komandan militer Romawi. Ia mendapat mandat untuk memimpin armada laut dalam Perang Punisia Pertama. Namun, sebelum bertempur, ia dihadapkan pada tradisi yang wajib dipatuhi: ramalan menggunakan ayam suci.
Ritualnya sederhana. Ayam-ayam yang dianggap keramat dibawa ke atas kapal perang, lalu dikeluarkan dan diberi makan. Apabila ayam-ayam itu menyantap pakan dengan lahap, pertanda baik pun terbit. Sebaliknya, jika mereka menolak makan, itu dianggap sebagai firasat buruk yang harus diindahkan.
Claudius, bagaimanapun, memilih jalan berbeda. Ia tidak hanya mengabaikan ramalan tersebut, tetapi juga melemparkan ayam-ayam itu ke laut. "Karena mereka tidak mau makan, biarkan mereka minum!" ujarnya, sebagaimana dikutip dalam catatan sejarah.
Usai tindakan kontroversial itu, Claudius tetap melancarkan serangan. Armadanya bertempur habis-habisan, namun hasilnya menjadi petaka. Sebanyak 93 dari 123 kapal pasukannya tenggelam. Sejumlah prajurit lainnya ditawan oleh musuh. Kekalahan total itu tak pelak membawanya kembali ke Roma dalam aib.
Di ibu kota kekaisaran, Claudius diadili. Ia dituding tidak cakap memimpin dan tidak taat kepada kehendak dewa-dewa. Pengabaiannya terhadap pertanda buruk dari ayam-ayam suci menjadi salah satu dakwaan utama. Vonis awal menjatuhkan hukuman mati atau cambuk, namun hukuman itu kemudian diringankan setelah ia membayar ganti rugi atas kapal-kapal Romawi yang tenggelam.
Tak lama setelah bebas, Claudius meninggal dunia. Tahun dan tanggal persis kematiannya tidak tercatat. Meskipun demikian, kisahnya tetap hidup sebagai gambaran betapa kuatnya pengaruh tradisi ramalan di zaman Romawi. Para sejarawan mencatat bahwa kecocokan antara ramalan dan kenyataan sering kali hanya terjadi secara kebetulan, namun kepercayaan terhadapnya tetap dipegang teguh oleh masyarakat kala itu.
Artikel Terkait
Arus Lalu Lintas Jalur Puncak Lancar di Hari Terakhir Long Weekend, Ganjil Genap dan One Way Tak Diberlakukan
Pemprov Jakarta Hentikan Sementara CFD di HR Rasuna Said, Akan Kembali Digelar Juni 2026
AHY Dorong Riset Mineral Terintegrasi Infrastruktur Hijau demi Cegah Bencana Lingkungan
Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali Berturut-turut Minggu Pagi, Kolom Abu Capai 700 Meter