Seorang sersan mayor nekat menodongkan laras senapan tepat ke wajah seorang letnan dua. Peristiwa itu bukanlah adegan dalam film laga, melainkan bagian dari sejarah kelam prajurit Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 26 November 1956. Yang menjadi sasaran todongan senjata itu tak lain adalah Benny Moerdani, yang kelak menjelma menjadi Panglima ABRI, sementara pengancamnya adalah Sersan Mayor Agus Hernoto, seorang bintara yang kemudian hari dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Soeharto pada 1987.
Penghargaan Bintang Sakti yang diterima Agus Hernoto merupakan simbol keberanian dan ketabahan yang melampaui panggilan tugas dalam operasi militer. Medali itu menempatkannya sejajar dengan Benny Moerdani sendiri, yang juga pernah menerima penghargaan serupa dari Presiden Soekarno. Namun, sebelum keduanya tercatat sebagai pahlawan, mereka sempat berada di sisi yang berseberangan dalam sebuah pemberontakan yang nyaris merenggut nyawa.
Insiden bermula dari kekecewaan sebagian besar prajurit RPKAD terhadap kepemimpinan Mayor Djaelani, komandan mereka saat itu. Djaelani terlibat dalam rencana penculikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kolonel A.H. Nasution. Rencana itu digagas oleh Panglima Tentara Teritorium I, Kolonel Zulkifli Lubis, yang merasa tidak puas dengan situasi nasional dan rendahnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan prajurit.
Lubis kemudian mengajak sejumlah perwira Divisi Siliwangi, antara lain Letnan Kolonel Kemal Idris, Mayor Soewarto, dan Mayor Djaelani. Dalam kesaksiannya, Kemal Idris mengaku hanya dua kali bertemu dengan Lubis dan Djaelani sebelum rencana penyerbuan Jakarta digelar. “Kami membicarakan ketidakpuasan terhadap Pusdik Angkatan Darat yang saat itu dipimpin oleh Nasution. Kami mendambakan keadaan yang teratur dan normal,” ujarnya.
Pasukan Siliwangi dan RPKAD dijadwalkan bertemu di Kranji, Bekasi. Saat itu, Mayor Djaelani membawa peleton Kompi A yang salah satu komandan kompinya adalah Benny Moerdani. Namun, Benny tidak ikut karena sedang sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit Cimahi. Setibanya di Kranji, Djaelani tidak menemukan pasukan Siliwangi dan memutuskan kembali ke Batujajar. Rencana itu gagal karena Nasution telah mengetahui gerakan tersebut dari perwira intelijen Letkol Soekendro yang disusupkan sejak lama.
Meskipun gagal, Djaelani tetap melanjutkan rencananya. Bahkan, Zulkifli Lubis datang langsung ke Batujajar untuk mendorong Djaelani agar tetap bergerak. Di hadapan para perwiranya, Djaelani memberi waktu 2x24 jam untuk memutuskan ikut atau tidak. Ia juga memerintahkan seluruh jajarannya berkumpul di kantor komandan.
Pagi hari, tepat pukul 06.00 WIB, rentetan tembakan memecah kesunyian Kompleks Asrama RPKAD di Batujajar. Pasukan Kompi B yang menolak gerakan penculikan mengamuk dan terlibat baku tembak dengan perwira Kompi A. Mereka kemudian mencari Djaelani yang saat itu berada di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD).
Di tengah kekacauan itu, Benny Moerdani yang baru kembali dari rumah sakit dikejutkan oleh seorang bintara yang menghadangnya. “Mau kemana?” gertak Sersan Agus Hernoto sambil menodongkan senapan ke wajah Benny. “Lho, ke kantor,” jawab Benny tenang. “Lha kalian mau kemana?” tanyanya balik. “Ke Pak Djaelani, dia mengkhianati kita semua,” jawab Agus.
Benny kemudian mengikuti rombongan Agus dari belakang. Ia menyaksikan sejumlah perwira sudah ditahan dalam sebuah ruangan. Benny menjadi satu-satunya perwira yang tidak ditangkap karena selama sebulan ia diketahui sakit. Saat para bintara berteriak ingin membunuh para perwira yang dianggap pengkhianat, Benny sigap melarang. “Taruh semua senjatanya. Serahkan semua kepada saya,” perintahnya.
Benny bersama Agus Hernoto dan beberapa prajurit lainnya menuju SSKAD. Di sana, ia menjelaskan peristiwa yang terjadi di Batujajar kepada Djaelani. Mendengar penjelasan itu, Djaelani akhirnya menyerah dan memberikan pistolnya kepada Benny. Peristiwa itu justru menjadi awal dari persahabatan seumur hidup antara Benny Moerdani dan Agus Hernoto, meskipun sebelumnya Agus pernah menodongkan senjata ke wajahnya.
Hubungan keduanya semakin erat ketika Agus Hernoto dikeluarkan dari RPKAD oleh Danjen Kopassus Moeng Parhadimoeljo karena cacat sepulang dari operasi pembebasan Papua. Benny lah yang menyelamatkan dan mengajaknya bergabung di Opsus binaan Wakil Asisten Intelijen Kostrad, Mayjen TNI Ali Moertopo. Sebuah ikatan yang lahir dari momen paling menegangkan dalam sejarah kesatuan pasukan elite Indonesia.
Artikel Terkait
Kepala Sekolah SMK di Pamulang Diperiksa Polisi Usai Viral Dugaan Child Grooming
Siswa SD di Sidoarjo Kirim Surat ke Presiden Prabowo, Ungkap Terima Kasih atas Makan Bergizi Gratis dan Ingin Ikut Upacara di Istana
Anak-anak Pahawang Sambut Wisatawan dengan Aksi Menyelam Tanpa Alat, Jadi Atraksi Unik Sebelum Snorkeling
Prabowo Heran Publik Panik Rupiah Melemah, Pengamat Sebut Strategi Jaga Persepsi Ekonomi