Di tengah gempuran camilan modern dan hidangan penutup mancanegara yang kian populer, Sulawesi Selatan ternyata menyimpan kue tradisional dengan visual yang tak kalah memikat. Namanya Bayao Pannyu, jajanan khas Bugis-Makassar yang sekilas tampilannya sangat mirip dengan mochi asal Jepang.
Dalam bahasa Makassar, Bayao Pannyu berarti "telur penyu". Julukan ini melekat karena bentuk kue yang bulat kecil dan berwarna putih, persis menyerupai telur penyu atau bola pingpong. Di sejumlah daerah, kudapan ini juga dikenal dengan sebutan onde-onde tallo' pannyu.
Bayao Pannyu dibuat dari adonan tepung ketan yang menghasilkan tekstur lembut dan kenyal. Secara kasatmata, penampilannya memang mirip mochi atau klepon. Namun, yang membedakan adalah isian dan balurannya. Secara tradisional, kue ini menggunakan isian unti kelapa, yakni campuran kelapa parut dan gula merah yang lazim ditemukan pada jajanan khas Bugis-Makassar. Setelah direbus hingga matang, permukaannya dibaluri tepung beras sangrai sehingga tampilannya menyerupai bola salju kecil. Perpaduan tekstur kenyal di luar dan isian manis di dalam membuat kue ini tetap digemari hingga kini.
Sementara itu, seiring berkembangnya tren kuliner, Bayao Pannyu mulai hadir dengan berbagai inovasi rasa. Selain isian tradisional, kini beberapa kreasi menggunakan isian cokelat yang memberikan sensasi lebih modern. Bahkan, ada pula yang menyajikannya menggunakan tusukan sate kecil sehingga tampilannya menyerupai dango, jajanan khas Jepang. Bentuk penyajian ini membuat Bayao Pannyu terlihat lebih kekinian tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.
Di sisi lain, meski tampil unik, proses pembuatan Bayao Pannyu sebenarnya cukup sederhana dan masih bisa dibuat sendiri di rumah. Bahan-bahan yang diperlukan untuk kulit putih antara lain 150 gram tepung ketan, 50 gram tepung beras, 200 hingga 250 mililiter air, dan tepung beras sangrai untuk baluran. Untuk variasi kulit cokelat, bahan yang digunakan adalah 150 gram tepung ketan, 50 gram tepung beras, 15 gram cokelat bubuk, dan 200 hingga 250 mililiter air. Adapun isian cokelat terbuat dari mentega atau margarin, tepung terigu, susu bubuk, cokelat bubuk, dan air secukupnya, sementara isian tradisional tetap menggunakan unti kelapa.
Cara membuatnya pun tidak rumit. Pertama, buat adonan isi terlebih dahulu hingga teksturnya halus dan bisa dibentuk. Selanjutnya, campurkan bahan kulit, lalu tambahkan air sedikit demi sedikit hingga adonan kalis. Pipihkan adonan kulit dan isi bagian tengahnya sesuai selera, lalu bentuk bulat hingga menyerupai telur penyu kecil. Rebus dalam air mendidih hingga adonan mengapung, lalu tiriskan. Terakhir, baluri dengan tepung beras sangrai atau cokelat bubuk sebelum disajikan.
Bayao Pannyu menjadi salah satu contoh bagaimana jajanan tradisional tetap bisa bertahan di tengah perubahan zaman. Lewat variasi rasa dan tampilan yang lebih modern, kue khas Makassar ini perlahan kembali menarik perhatian, terutama di kalangan anak muda. Meski tampil lebih kekinian, ciri khasnya sebagai kue tradisional Bugis-Makassar tetap terasa sederhana, manis, dan penuh cita rasa lokal.
Artikel Terkait
Prabowo Minta Pindad Rancang Mobil Khusus agar Bisa Salami Warga Tanpa Turun
Ekonom Senior: Ketimpangan Wilayah dan Ketergantungan pada SDA Hambat Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Polisi Tangkap Remaja 17 Tahun Pembunuh Pelajar di Wajo Kurang dari 24 Jam
Prabowo Perintahkan Hukum Tetap Jalan Meski Pejabat Terperiksa Orang Dekat Presiden