Tim SAR Palembang Bergegas ke Sumbar, Angka Korban Banjir-Longsor Sumatra Tembus 442 Jiwa

- Senin, 01 Desember 2025 | 14:06 WIB
Tim SAR Palembang Bergegas ke Sumbar, Angka Korban Banjir-Longsor Sumatra Tembus 442 Jiwa

Duka masih begitu pekat menyelimuti Sumatera Barat. Pasca banjir dan longsor yang menghantam, bantuan dari berbagai daerah pun berdatangan. Salah satunya dari Palembang, Sumatera Selatan. Dari sana, Basarnas mengerahkan lima belas personel terbaiknya. Mereka berangkat dengan peralatan lengkap, siap diterjunkan ke titik-titik terparah untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Tim itu sudah berangkat sejak Sabtu lalu. Dan sejak tiba, mereka langsung turun ke lokasi-lokasi kritis. Pekerjaan mereka jelas tidak mudah. Di lapangan, kondisi benar-benar ekstrem: tanah yang labil, material longsoran yang menumpuk, ditambah cuaca yang tak bisa ditebak. Namun, bagi mereka, setiap detik sangat berharga.

“Mereka tidak hanya membawa peralatan, tapi juga membawa harapan bagi keluarga yang menunggu kabar,”

Kata Kepala Kantor SAR Palembang, Raymond Konstantin, pada Senin (1/12/2025).

Menurut Raymond, kehadiran personelnya bukan sekadar tambahan tenaga. Ini adalah bentuk solidaritas dan upaya pertolongan lintas provinsi yang dikomandani Basarnas pusat. Permintaan bantuan itu sendiri datang langsung setelah situasi di Sumbar dinilai semakin darurat.

“Setiap menit berarti. Keterlibatan kami diharapkan mempercepat evakuasi dan menekan risiko korban tambahan,”

tegasnya lagi.

Di sisi lain, data terbaru dari BNPB per 30 November benar-benar menggambarkan betapa dahsyatnya musibah ini. Angkanya sungguh memilukan. Secara keseluruhan, bencana di Sumatra telah merenggut 442 nyawa. Yang menghentak, masih ada 402 orang lainnya yang tercatat hilang.

Rinciannya cukup panjang. Di Sumatera Utara, korban jiwa mencapai 217 orang, tersebar dari Tapanuli Tengah hingga Nias. Sumatera Barat mencatat 129 tewas, dengan 118 hilang dan puluhan ribu pengungsi. Sementara di Aceh, 96 orang meninggal dan 75 lainnya belum ditemukan.

Setiap kali data terbaru itu masuk, beban di pundak tim di lapangan terasa semakin berat. Mereka bukan hanya berhadapan dengan lumpur dan puing. Ada tanggung jawab besar yang mereka pikul.

“Para personel tahu, di balik setiap nama hilang, ada keluarga yang menunggu dengan cemas. Itu yang membuat mereka bekerja tanpa mengenal waktu,”

ujar Raymond, menggambarkan semangat juang anak buahnya.

Di tengah landscape bencana yang suram, kedatangan tim dari Palembang ini setidaknya menjadi secercah cahaya. Sebuah bukti bahwa di saat-saat terberat, bantuan dan harapan bisa datang dari mana saja.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar