Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington. Penolakan ini langsung dipandang sebagai kemunduran diplomatik yang signifikan, sekaligus mengubur harapan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik kritis rantai pasok energi global.
Keputusan Trump menghentikan sementara proses negosiasi yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Dalam pernyataannya, Trump menyebut gencatan senjata yang tengah berjalan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada pada "titik terlemahnya" dan dalam kondisi yang sangat rapuh. Imbasnya, harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Juli yang menjadi acuan global menguat 2,9 persen menjadi 104,22 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni naik 2,8 persen ke level 98,03 dolar AS per barel. Kenaikan ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya, di mana kedua kontrak utama tersebut justru ambles lebih dari enam persen akibat optimisme pasar yang mengira kesepakatan damai akan segera tercapai.
Kebuntuan bermula ketika media pemerintah Iran mengumumkan bahwa Teheran telah menyerahkan tanggapan resmi atas rencana damai AS. Dalam proposalnya, Iran menuntut tiga hal utama: penghentian pertempuran di semua lini, pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang. Namun, Trump bereaksi cepat dan keras. Melalui unggahan di media sosial, ia menyatakan ketidakpuasannya secara gamblang. "Saya tidak menyukainya sama sekali tidak dapat diterima," tulisnya.
Trump kemudian menjelaskan kepada wartawan bahwa poin utama yang hilang dari proposal Iran adalah komitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir. "Rencananya adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak mengatakan itu," ujarnya, seraya menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang "bodoh." Presiden AS itu juga mengklaim bahwa dua hari sebelumnya, Iran sempat setuju untuk mengakhiri program pengayaan nuklir dan meminta AS mengeluarkan material nuklirnya yang ia sebut sebagai "debu nuklir." Namun, menurut Trump, Iran berubah pikiran dan tidak lagi menyertakan isu nuklir dalam proposal resmi yang dikirimkan.
Di tengah ketidakpastian ini, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan serius kepada para investor. Dalam konferensi pers soal pendapatan perusahaan, ia mengatakan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka kembali hari ini juga, pasar tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapai keseimbangan. "Jika pembukaan selat tertunda beberapa minggu lagi, normalisasi pasokan baru akan terjadi pada 2027," ujarnya. Selat tersebut saat ini praktis diblokade oleh aktivitas militer AS dan Iran, membuat jalur pelayaran komersial di kawasan itu lumpuh total.
Menanggapi situasi genting itu, Trump mengungkapkan kepada Fox News bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali "Proyek Kebebasan" sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengawal kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan aman. Langkah ini, jika benar-benar dijalankan, akan menjadi operasi militer besar-besaran yang berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan.
Para pelaku pasar juga mengarahkan perhatian pada kunjungan kenegaraan Trump ke Tiongkok yang akan datang. Pertemuan dengan Presiden Xi Jinping diperkirakan akan membahas tiga isu utama: perdagangan, Taiwan, dan konflik Iran. Beijing dipandang sebagai pemain kunci dalam diplomasi ini mengingat hubungan ekonominya yang erat dengan Teheran. Namun, data perdagangan terbaru justru menunjukkan adanya tekanan. Impor minyak mentah Tiongkok pada April tercatat turun 20 persen secara tahunan, mencapai level terendah sejak Juli 2022.
Sementara itu, di dalam negeri, Trump mengumumkan bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk menangguhkan pajak bensin federal. Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat yang dipicu oleh perang Iran. "Saya akan menangguhkan pajak tersebut sampai dianggap tepat," kata Trump kepada wartawan. Saat ini, warga Amerika membayar pajak sebesar 18,4 sen per galon untuk bensin dan 24,4 sen per galon untuk solar. Menurut data AAA, rata-rata harga bensin nasional saat ini telah mencapai 4,52 dolar AS per galon. Senator Josh Hawley dari Partai Republik menyatakan akan segera mengajukan rancangan undang-undang untuk menangguhkan pajak tersebut, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan Kongres.
Di sisi lain, para pelaku pasar minyak pekan ini juga akan mencermati data persediaan minyak bumi mingguan yang dirilis Badan Informasi Energi (EIA). Ekspor minyak mentah dan produk olahan AS saat ini mencapai rekor tertinggi akibat penutupan Selat Hormuz. Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie, memperkirakan persediaan minyak mentah AS akan turun sebesar 1,3 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 8 Mei. "Ini menyusul penurunan 2,3 juta barel pada pekan sebelumnya," ujarnya. Chancellor menambahkan bahwa di luar variabilitas normal, ekspor minyak mentah yang terus tinggi serta pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) berpotensi menyuntikkan volatilitas besar ke dalam data mingguan. "Di tengah latar belakang arus ekspor bersih yang kuat melalui jalur laut, kami memperkirakan kekuatan musiman dalam pengambilan dan potensi peningkatan penarikan SPR," pungkasnya.
Artikel Terkait
Serangan Drone Kembali Hantam Kyiv Sesaat Setelah Gencatan Senjata Berakhir
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 per Gram, Buyback Tembus Rp2,676 Juta
12 Provinsi Sepakat Jadikan Jawa Tengah Poros Kolaborasi Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
15 WNA China di Tambang Gunung Botak Terancam Dideportasi karena Izin Tinggal Tak Sesuai