UNESA dan DWP Kemensos Gelar Edukasi Anti-Perundungan untuk Siswa Sekolah Rakyat Surabaya

- Senin, 11 Mei 2026 | 20:35 WIB
UNESA dan DWP Kemensos Gelar Edukasi Anti-Perundungan untuk Siswa Sekolah Rakyat Surabaya

Suasana Aula Auditorium Gedung LPSP Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di Jawa Timur terasa berbeda pada hari itu. Ratusan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya tampak antusias mengikuti kegiatan literasi digital dan edukasi anti-perundungan yang bertajuk "Stop Bullying, Start Growing". Kegiatan ini digelar dalam suasana yang interaktif, di mana para siswa tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga aktif dalam permainan, diskusi, hingga sesi tanya jawab bersama para narasumber.

Acara yang diselenggarakan bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI ini menghadirkan Penasihat DWP Kemensos, Fatma Saifullah Yusuf. Dalam kesempatan tersebut, Fatma mengingatkan bahwa perundungan atau bullying dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, terutama pada remaja yang masih dalam masa pencarian jati diri. Ia menekankan bahwa tindakan perundungan kini tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah secara fisik, melainkan juga merambah ke dunia maya melalui media sosial.

"Kadang sesuatu yang menurut kita bercanda, belum tentu lucu bagi orang lain. Di balik candaan itu bisa ada hati yang terluka, rasa takut, bahkan kehilangan rasa percaya diri," ujar Fatma dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

Lebih lanjut, Fatma mengajak para siswa untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga cara berinteraksi dengan sesama. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap siswa untuk berkembang tanpa rasa takut. "Kita harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling mengasihi. Mulailah dari diri sendiri dengan menghargai perbedaan dan berani mengatakan tidak pada bullying," tegasnya.

Sesi diskusi menjadi momen yang paling dinantikan. Salah seorang siswa SRMA 21 Surabaya, Miftahul Ananda (17), melontarkan pertanyaan yang menyentuh inti persoalan. Ia menanyakan apakah ejekan terhadap kondisi fisik seseorang termasuk dalam kategori bullying verbal dan apa dampak buruknya bagi korban. Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber Bawinda Sri Lestari menjelaskan bahwa ejekan terhadap fisik merupakan bentuk bullying verbal yang nyata. Tindakan ini, menurutnya, dapat memengaruhi kondisi mental dan rasa percaya diri seseorang dalam jangka panjang. Karena itu, Bawinda mengajak para siswa untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di media sosial.

Sementara itu, Plt Kepala SRMA 21 Surabaya, Ummi Nazhiroh, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan karakter siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. "Prestasi tidak hanya diukur dari keberhasilan akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun karakter dan rasa saling menghormati," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah UNESA, Mufarrihul Hazim, menyampaikan apresiasinya terhadap program Sekolah Rakyat. Ia mengaku melihat perubahan positif yang signifikan pada para siswa sejak pertama kali mereka hadir di lingkungan kampus. "Dulu wajah mereka masih penuh pesimisme, tetapi hari ini wajahnya sudah penuh optimisme untuk menjadi orang-orang hebat dan sukses," kata Mufarrihul.

Selain edukasi anti-perundungan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran bantuan Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Bantuan diberikan kepada delapan penerima manfaat dari kluster disabilitas di Kota Surabaya dengan total nilai mencapai Rp 24.055.315. Rinciannya, Tarmudji menerima kaki palsu senilai Rp 9.804.300, Afifah Novaria mendapatkan sepatu AFO senilai Rp 604.300, Dwi Andi Santoso dan Satimah masing-masing memperoleh kursi roda senilai Rp 2.629.750. Sementara itu, bantuan usaha diberikan kepada Dodik Jatmiko untuk usaha mainan senilai Rp 1.975.000, Tony Sanjaya untuk usaha gorengan senilai Rp 1.666.065, Tutik Iriani untuk usaha kue basah senilai Rp 1.246.150, dan Sutarjo untuk usaha bengkel sepeda motor senilai Rp 3.500.000.

Kegiatan ini juga diselenggarakan bersama Viva Muda dalam rangka memperingati ulang tahun keenam komunitas anak muda binaan Viva Cosmetics tersebut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar