147 Kuda dari 12 Daerah Berlaga di IHR 2026, Piala Raja Mangkunegaran Diperebutkan untuk Pertama Kalinya

- Minggu, 10 Mei 2026 | 23:15 WIB
147 Kuda dari 12 Daerah Berlaga di IHR 2026, Piala Raja Mangkunegaran Diperebutkan untuk Pertama Kalinya

Sebanyak 147 kuda dari 12 daerah di Indonesia turun berlaga dalam ajang Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026 yang digelar di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu. Edisi tahun ini mengusung tajuk “IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2”, yang tidak hanya memperebutkan trofi bergengsi tetapi juga menjadi bagian penting dalam perburuan gelar Triple Crown Indonesia. Kolaborasi antara Sarga.Co, PP Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), dan Mangkunegaran melahirkan ajang ini, dengan Mangkunegaran sendiri memiliki tradisi panjang dalam budaya berkuda.

Managing Director Sarga Group, Nugdha Achadie, menyatakan bahwa sebagai promotor olahraga pacuan kuda pertama dan satu-satunya di Indonesia, pihaknya bangga mempersembahkan perebutan perdana Piala Raja Mangkunegaran. Piala ini merupakan seri pertama dari King’s Cup Series dalam rangkaian IHR 2026, yang dirancang untuk meningkatkan pamor pacuan kuda di tanah air sebagai warisan tradisi dan budaya.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenagoro X, yang akrab disapa Gusti Bhre, menjelaskan bahwa tradisi berkuda dan pacuan kuda di Mangkunegaran telah berakar sejak awal abad ke-19. “Solo Balapan dulu pacuan kuda. Karena itu, sejarah berkuda di Mangkunegaran sangat panjang, di dalam istana ada arena berkuda untuk keprajuritan. Melalui ini, kami coba hidupkan kembali,” ujarnya. Menurut Gusti Bhre, kuda menyimbolkan keberanian, ketangkasan, disiplin, dan motivasi kuat yang diharapkan menjadi awal baik untuk menghidupkan ekosistem olahraga berkuda di Indonesia.

“Melalui Piala Raja Mangkunegaran, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pacuan kuda di Indonesia sebagai salah satu kekayaan tradisi dan budaya bangsa yang istimewa yang patut dilestarikan,” tambah Gusti Bhre.

Sementara itu, Ketua Umum PP Pordasi, Aryo PS Djojohadikusumo, menegaskan bahwa ajang ini merupakan program pengurus Pordasi dalam memadukan olahraga, budaya, dan modernitas atau hiburan. “Sesuai program sebagai ketua umum, kami akan memperbanyak Piala Raja. Ada Piala Raja Paku Alam, Piala Raja Hamengku Buwono. Bukan hanya di DIY Yogyakarta, Insya Allah juga di Kalimantan, Sumatra, dan berbagai daerah di nusantara,” katanya.

Penyelenggaraan di Tegalwaton, yang berbatasan dengan Kota Salatiga, juga menjadi momentum bersejarah. Lokasi ini mencatat asal muasal trah Mangkunegaran yang didirikan pada 1757 di Salatiga. Dalam ajang ini, Komisi Pacu PP Pordasi untuk pertama kalinya memperkenalkan sistem handicap dalam Kelas Terbuka 2.000 meter dan Kelas Terbuka Sprint 1.300 meter.

IHR 2026 melombakan total 28 kelas, antara lain Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter, Kelas Terbuka Handicap 2.000 meter, Kelas 3 Tahun Derby Divisi II 1.600 meter, Kelas 3 Tahun Divisi I 1.400 meter, dan Kelas 2 Tahun Pemula A/B 1.200 meter. Kuda-kuda yang tampil merupakan kuda terbaik dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Antusiasme masyarakat pun cukup tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah penonton di Tegalwaton yang mencapai 30 ribu orang pada hari perlombaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar