Trump Kecam Kanselir Jerman Merz yang Dinilai Anggap Wajar Kepemilikan Nuklir Iran

- Rabu, 29 April 2026 | 15:15 WIB
Trump Kecam Kanselir Jerman Merz yang Dinilai Anggap Wajar Kepemilikan Nuklir Iran

WASHINGTON Hubungan Amerika Serikat dan Jerman memanas lagi. Kali ini, Presiden Donald Trump bereaksi keras setelah dikritik Kanselir Jerman Friedrich Merz soal pendekatan Washington terhadap Iran. Dan respons Trump? Kasar, seperti biasa.

Di akun Truth Social-nya, Trump menulis bahwa Merz menganggap kepemilikan senjata nuklir oleh Iran itu wajar. “Kanselir Jerman Friedrich Merz menganggap kepemilikan senjata nuklir Iran itu wajar,” tulisnya, Rabu (29/4/2026).

Trump lalu menambahkan, Merz sebenarnya paham betul apa yang dia katakan. Tapi tetap saja, kata Trump, sikap seperti itu hanya akan membuat Iran bisa menyandera dunia dengan senjata nuklirnya. Agak dramatis, memang. Tapi ya begitulah gaya Trump.

Dia juga membela keputusan-keputusannya sendiri. Menurutnya, negara lain pada akhirnya akan meniru apa yang dia lakukan. Lalu, tanpa basa-basi, dia menyindir kondisi Jerman.

“Tidak heran Jerman mengalami kesulitan, baik secara ekonomi maupun lainnya,” ucap Trump.

Nah, di sisi lain, Merz sebelumnya sudah blak-blakan. Senin lalu, dia menyebut AS kalah strategi dari Iran dalam negosiasi. Menurutnya, pendekatan Washington di meja perundingan Timur Tengah itu kurang greget. Kurang kuat, katanya.

Bahkan, Merz memuji kematangan diplomasi Iran. Dia bilang langkah-langkah yang diambil Teheran jauh lebih efektif ketimbang apa yang dilakukan Washington. Ini pernyataan yang cukup pedas, apalagi datang dari sekutu dekat.

“Amerika, tampaknya kekurangan strategi yang benar-benar meyakinkan untuk negosiasi,” kata Merz dalam pertemuan dengan mahasiswa, seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (28/4/2026).

Menurut sejumlah pengamat, pernyataan Merz ini mencerminkan frustrasi yang cukup dalam. Melihat perundingan damai yang mandek, dia tidak menutup kemungkinan bahwa AS bisa terjebak dalam konflik Timur Tengah dalam waktu yang panjang. Dan itu, menurutnya, bukan skenario yang bagus.

Apalagi, kata Merz, Iran tidak mau tunduk pada keinginan AS. Akibatnya, perundingan tidak menunjukkan kemajuan apa pun. Hanya jalan di tempat.

Yang menarik, Merz juga mengakui bahwa negara-negara Barat selama ini meremehkan kekuatan Iran. Realitas di lapangan, katanya, menunjukkan Iran jauh lebih kuat dari perkiraan awal. Baik dari sisi ketahanan menghadapi tekanan, maupun dalam kemampuan bernegosiasi. Jadi, mungkin selama ini mereka salah membaca situasi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar