PGE dan UGM Kembangkan Pupuk Ramah Lingkungan Berbasis Panas Bumi untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian

- Senin, 27 April 2026 | 07:15 WIB
PGE dan UGM Kembangkan Pupuk Ramah Lingkungan Berbasis Panas Bumi untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian

IDXChannel – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, atau yang lebih dikenal dengan PGE (PGEO), baru-baru ini menjalin kerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM). Tujuannya? Mengembangkan inovasi booster pertanian yang ramah lingkungan, berbasis panas bumi. Konsepnya cukup menarik.

Selain UGM, PGE juga menggandeng PT Agrotekno Estetika Laboratoris. Ketiga pihak ini kemudian menandatangani perjanjian kerja sama riset bersama, namanya Joint Study Development Agreement (JSDA) Project Beyond-Katrili. Sebuah langkah yang terbilang berani, menurut saya.

Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGE, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan mendesak. “Katrili,” katanya, “adalah solusi konkret untuk menjawab tantangan pertanian, terutama di sekitar wilayah operasional panas bumi seperti Sulawesi Utara.” Ia menyebutkan bahwa produktivitas pertanian di sana perlu ditingkatkan.

“Melalui Project Katrili, kami mengintegrasikan riset energi panas bumi dengan teknologi pertanian,” ujar Andi dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/4/2026). “Hasilnya adalah booster pertanian berbasis silika geotermal. Fungsinya? Meningkatkan kualitas tanah, memperkuat daya tahan tanaman, dan mendorong peningkatan hasil panen secara berkelanjutan.”

Ia menambahkan, hilirisasi energi adalah kunci. “Kolaborasi ini mempercepat inovasi sekaligus menjadi implementasi visi kami,” tegasnya. “Ke depan, bisnis panas bumi tidak hanya berfokus pada listrik. Ada beyond electricity kontribusi di berbagai sektor, termasuk pertanian.”

“Kami berharap Project Beyond-Katrili dapat menjadi bagian dari strategi besar PGE,” lanjut Andi. “Baik untuk meningkatkan produktivitas pertanian maupun memperluas pemanfaatan energi panas bumi. Upaya ini akan terus diperkuat melalui kolaborasi dan riset berkelanjutan. Agar manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat.”

Nah, soal Katrili sendiri, ternyata mengandung silika dan kitosan. Kitosan ini dikembangkan dari limbah kulit udang dan kepiting yang melimpah di Indonesia. Jadi, selain membantu mengurangi limbah, kandungan kitosan dalam Katrili juga berfungsi melindungi tanaman dan meningkatkan kualitas pertumbuhan. Cukup pintar, bukan?

Cara pakainya? Kata Andi, cukup dicampur dengan air dan disiramkan langsung ke tanah. Takarannya disesuaikan dengan karakteristik tanah dan jenis komoditas. Gampang, praktis.

“Saat ini, Katrili telah diaplikasikan pada berbagai komoditas,” ungkapnya. “Seperti tomat varietas Gustavi, kacang batik, bawang merah, dan padi.”

Sementara itu, Prof. Ir. Selo, Dekan Fakultas Teknik UGM, angkat bicara. Menurutnya, perguruan tinggi punya peran penting dalam menjembatani riset dan implementasi teknologi di masyarakat.

“Pengembangan Katrili menjadi contoh konkret integrasi energi dan pangan,” ujar Prof Selo. “Sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan di tengah dinamika global.”

Ia menambahkan, inovasi ini berbasis pendekatan ilmiah lintas disiplin. “Menggabungkan geologi, farmasi, dan pertanian untuk menghasilkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan.”

Secara keseluruhan, proyek Katrili menunjukkan peran strategis FT UGM. Mereka menghasilkan inovasi berdampak nyata melalui kolaborasi dengan industri. Bukan sekadar teori di atas kertas.

“Pemanfaatan energi panas bumi yang terintegrasi dengan sektor pertanian menjadi langkah penting,” tutup Prof Selo. “Dalam mendorong kemandirian energi, ketahanan pangan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.”

(Nur Ichsan Yuniarto)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar