Pemerintah Targetkan Pembangkit Sampah Kurangi 33.000 Ton Limbah Harian pada 2029

- Kamis, 23 April 2026 | 14:00 WIB
Pemerintah Targetkan Pembangkit Sampah Kurangi 33.000 Ton Limbah Harian pada 2029

Bayangkan 140.000 ton sampah menumpuk setiap harinya di negeri ini. Angka itu nyata, dan kapasitas tempat pembuangan akhir kita jelas tak sanggup lagi menampungnya. Di tengah situasi itu, pemerintah punya rencana besar: membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PSEL di berbagai kota. Targetnya ambisius, tapi mendesak: mengurangi timbulan sampah hingga 33.000 ton per hari pada tahun 2029.

Proyek yang juga dikenal sebagai Waste-to-Energy (WTE) ini memang sedang digenjot percepatannya. Intinya sederhana, sampah yang menggunung itu bakal diolah dengan teknologi termal seperti insinerasi. Hasilnya dua sekaligus: volume sampah menyusut drastis, sementara dari proses pembakarannya bisa dihasilkan listrik. Menurut rencana, fokus pembangunannya akan dipusatkan di wilayah perkotaan yang produksi sampahnya sudah melampaui 1.000 ton per hari.

Lantas, seberapa besar dampaknya?

“PSEL ditargetkan dapat mengurangi timbulan sampah sekitar 33.000 ton per hari pada 2029,” jelas Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta belum lama ini.

“Itu setara dengan 22,48 persen dari total sampah nasional,” tambahnya.

Manfaatnya jelas bukan cuma angka di atas kertas. Dengan berkurangnya sampah yang masuk ke TPA, risiko penyakit di sekitarnya bisa ditekan. Kualitas hidup masyarakat pun diharapkan ikut terdongkrak. Qodari juga melihat peluang perubahan perilaku. Menurutnya, kehadiran PSEL bisa mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik, sekaligus memperkuat peran daerah dalam transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi teknis, potensinya cukup menjanjikan. Untuk sebuah PSEL dengan kapasitas olah 1.000 ton sampah per hari, dia bisa menghasilkan listrik rata-rata 25 Megawatt. Angka yang tidak kecil.

“Di sisi lain, ada manfaat ekonomi yang bisa diraih,” ujar Qodari melanjutkan.

“Mulai dari menarik investasi, membuka lapangan kerja baru, sampai mendongkrak aktivitas ekonomi di sekitar lokasi pembangunan. Belum lagi soal transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM kita dalam mengolah sampah.”

Peta jalannya sudah digariskan. Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di 30 lokasi atau aglomerasi, yang tersebar di 61 Kabupaten dan Kota. Target kapasitasnya minimal 1.000 ton per hari per lokasi, sehingga totalnya nanti benar-benar mencapai 33.000 ton per hari. Tahap pertama rencananya akan dimulai pada Juni 2026 mendatang, dengan groundbreaking di lima wilayah percontohan: Kota Bekasi, Yogyakarta, kawasan Bogor Raya, Denpasar Raya, dan Bandung Raya.

Jalan masih panjang. Tapi, dengan tumpukan sampah yang kian mengkhawatirkan, langkah konkret seperti ini memang tak bisa lagi ditunda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar