Kalau kita bicara soal cuaca, tampaknya tahun 2026 perlu jadi perhatian serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan musim kemarau tahun itu bakal datang lebih awal. Tak cuma itu, periode kekeringannya juga diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya.
Informasi ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Fenomena El Nino yang digelar di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan. Rakor dipimpin langsung oleh Wakapolri dan diikuti secara daring oleh jajaran Polda se-Indonesia serta Unit Pelaksana Teknis BMKG di daerah. Hadir mewakili BMKG, Sekretaris Utama Guswanto didampingi Direktur Perubahan Iklim, A. Fachri Radjab.
Dalam paparannya, Guswanto menyoroti dinamika atmosfer terkini dan dampak historis El Nino. Fokusnya tentu pada potensi perkembangan fenomena itu di tahun 2026. Rapat ini sendiri merupakan bagian dari upaya memperkuat kewaspadaan lintas sektor, terutama menyongsong risiko kebakaran hutan dan lahan yang bisa melonjak saat kemarau panjang.
Menurut Guswanto, kondisi iklim global saat ini masih dalam fase netral. Namun, analisis terbaru BMKG di akhir Maret 2026 menunjukkan sinyal perubahan.
“Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II-2026, dengan peluang berkisar antara 50 hingga 80 persen,” jelas Guswanto, Jumat (17/4/2026).
“Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” tegasnya.
Di sisi lain, Guswanto juga meluruskan istilah yang ramai beredar. Fenomena “El Nino Godzilla” yang kerap disebut media bukanlah terminologi resmi dalam klimatologi. BMKG, menurutnya, selalu berpegang pada istilah ilmiah dan data yang akurat dalam menyampaikan informasi ke publik. Tujuannya jelas: objektif dan bertanggung jawab.
Menyikapi proyeksi ini, Guswanto mendorong kesiapan penuh pemerintah. Langkah mitigasi dan koordinasi antarinstansi harus diperkuat dari sekarang.
Pesan serupa disampaikan Wakapolri Dedi Prasetyo. Ia menekankan kolaborasi adalah kunci.
“Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan,” ujarnya.
Intinya, rapat ini ingin menegaskan bahwa menghadapi anomali iklim butuh sinergi solid. Dari kementerian, lembaga, pemda, sampai aparat keamanan. Dengan koordinasi yang kuat, langkah deteksi dini dan mitigasi risiko diharapkan bisa berjalan lebih efektif, menyeluruh, hingga ke seluruh penjuru Indonesia.
Artikel Terkait
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus
OpenAI Siapkan Dana Lebih dari US$20 Miliar untuk Amankan Akses Chip Cerebras