Ratusan pengacara dari berbagai penjuru Indonesia memadati Ballroom Level Up di Sentul City, Minggu lalu. Suasana riuh rendah terdengar jelas. Mereka bukan cuma sekadar berkumpul, tapi sedang merajut kembali ikatan persaudaraan dalam acara halal bihalal besar-besaran. Sekitar 300 advokat, semua perwakilan cabang dan anak cabang Komite Nasional Advokat Indonesia (KNAI), hadir dengan satu tujuan: memperkuat kohesi internal.
Acara itu sendiri terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan formal biasa. Dari tata panggung yang memukau dengan grafis digital dinamis, pencahayaan yang ditata apik, sampai berbagai elemen pendukung lainnya semuanya menyiratkan satu pesan: KNAI ingin tampil sebagai organisasi yang modern dan melek teknologi. Konsep digital kreatif yang diusung memang berhasil menciptakan atmosfer yang segar dan energik.
Di tengah kemeriahan itu, Ketua Umum KNAI, Pablo Benua, menyampaikan pidatonya. Ia mengakui bahwa sebagai organisasi yang relatif baru, KNAI memang gencar melakukan konsolidasi.
Namun begitu, di balik gemerlap teknologi, ada pesan mendasar yang ditegaskan Pablo. Ia tak ingin kemajuan sistem membuat anggota lupa pada akar profesi mereka.
Artikel Terkait
Menteri Haji Tegaskan Negosiasi Tarif Penerbangan 2026, Batasi Kenaikan Rp1,7 Triliun
Bank Mega Syariah Raup Dana Rp709 Miliar dan 5.600 Rekening Baru di Ramadan 2026
Pemerintah Siap Tanggung Kenaikan Biaya Penerbangan Haji 2026
Kapten Timnas U-17 Cetak Brace, Indonesia Gasak Timor Leste 4-0 di Piala AFF