Komoditas lain ceritanya berbeda. Biji kakao justru mengalami penurunan cukup signifikan. Harga Referensinya anjlok 21,17% menjadi USD3.190,63 per MT. Imbasnya, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao ikut merosot 22,46%.
Tommy menyebut penyebabnya adalah suplai yang membaik dari negara-negara produsen utama. Sayangnya, permintaan di pasar tidak sekuat itu, sehingga harga tertekan.
Lalu bagaimana dengan komoditas kehutanan? Ada yang stagnan, ada yang naik, ada pula yang turun. Harga produk kulit, misalnya, tak berubah dari Maret. Getah pinus malah sedikit menguat 1,44%.
Untuk produk kayu, pergerakannya beragam. HPE veneer dan kayu olahan dari jenis meranti, rimba campuran, serta akasia dan sengon mengalami kenaikan. Sebaliknya, kayu jenis merbau dan jati justru harganya turun. Beberapa produk seperti chipwood dan kayu olahan dari sungkai stabil, tidak berubah.
Semua ketetapan harga ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 560 Tahun 2026. Aturan itu menjadi acuan resmi untuk ekspor produk pertanian dan kehutanan yang dikenakan Bea Keluar mulai 1 April mendatang.
Artikel Terkait
PMI Manufaktur Indonesia Melambat Drastis ke 50,1 pada Maret 2026, Dampak Perang Timur Tengah
Harga Emas Antam Naik Rp75.000, Buyback Melonjak Rp110.000
Aplikasi X Lumpuh Total, Ribuan Pengguna Global Terdampak
Dua Bocah Berblangkon Deg-degan Saat Serahkan Bunga untuk Presiden Prabowo di Seoul