Dini hari tadi, di Circuit of the Americas, ada momen pahit manis yang dialami Veda Ega Pratama. Pembalap muda Indonesia itu sempat menunjukkan taring dengan mencetak lap tercepat. Tapi, sayangnya, balapan Moto3 Amerika Serikat untuknya harus berakhir lebih awal akibat insiden yang dramatis.
Start dari posisi keempat, Veda awalnya bertahan di barisan depan. Namun, ia memilih untuk tak terburu-buru dan bermain lebih kalem, yang membuat posisinya turun ke peringkat delapan. Baru pada lap ketiga, ia mulai menunjukkan serangannya. Ritme balapnya kembali ditemukan. Satu per satu posisi ia raih, dari tujuh, lalu enam, dan merangkak naik ke posisi lima.
Dan di lap yang sama itulah, ia mencatatkan waktu tercepat: 2:13.844. Sebuah tanda bahwa speed-nya sedang bagus.
Namun begitu, nasib berkata lain. Di lap keempat, ketika sedang dalam mode menyerang, motornya tiba-tiba mengalami "high-side". Veda terlempar dan mendarat di area gravel. Joel Esteban, yang baru saja disalip dan ada tepat di belakangnya, tak punya ruang untuk menghindar. Motornya menabrak motor Veda yang sudah terjatuh, dan Joel pun ikut terpelanting.
Untungnya, bagi Veda, jatuhnya terjadi di pinggir lintasan. Ia terhindar dari risiko ditabrak pembalap lain yang melintas. Sedangkan Joel Esteban bersama motornya teronggok di gravel. Akibat insiden ini, keduanya terpaksa mundur dan tak bisa melanjutkan lomba.
Di sisi lain, balapan justru ditutup dengan drama yang sangat menegangkan. Juara Moto3 Amerika kali ini ditentukan oleh aksi nekat di tikungan terakhir, nyaris di depan garis finish.
Pemenangnya adalah Guido Pini, pembalap Italia dari tim Leopard Racing.
Sepanjang lap terakhir, empat pembalap Maximo Quiles (Spanyol), Valentine Perrone (Argentina), Alvaro Carpe (Spanyol), dan Guido Pini berebut posisi sengit. Hingga beberapa detik sebelum finish, kemenangan seolah akan diraih Alvaro Carpe, diikuti Valentine Perrone.
Tapi siapa sangka? Di tikungan penentu, Pini dan Quiles memutuskan mengambil risiko besar. Mereka menyalip dari sisi dalam, sementara Carpe dan Perrone bertahan di luar. Manuver berani itu berhasil. Pini dan Quiles melesat mendahului dan tak bisa dikejar sampai garis akhir. Puncak podium akhirnya diraih Guido Pini, disusul Maximo Quiles di posisi kedua. Alvaro Carpe harus puas di tempat ketiga.
Begitulah balap. Kadang ada keberuntungan, sering juga ada kekecewaan yang datang tiba-tiba. Untuk Veda, catatan lap tercepat itu mungkin jadi penghibur, sekaligus janji untuk balapan berikutnya.
Artikel Terkait
Fabregas Bawa Como 1907 ke Liga Champions untuk Pertama Kalinya, Manajemen Beri Kontrak Baru Rp92,6 Miliar
Industri Tambang Desak Kepastian Hukum Transisi Ekspor ke Badan Baru PT Danantara
Blackout Bukan Hanya di Indonesia: Pengamat Soroti Gangguan Listrik di Negara Maju dan Pentingnya Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional
Pengacara Roy Suryo Desak SP3 Kasus Ijazah Palsu Jokowi Berlaku untuk Semua Tersangka