Banjir Lumpuhkan Pasar Cipulir, Pedagang Rugi Puluhan Juta Rupiah

- Jumat, 20 Februari 2026 | 14:01 WIB
Banjir Lumpuhkan Pasar Cipulir, Pedagang Rugi Puluhan Juta Rupiah

MURIANETWORK.COM - Banjir kembali menggenangi Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Jumat (20/2/2026). Genangan air setinggi 30 sentimeter yang muncul sejak dini hari itu langsung menghentikan aktivitas perdagangan di lantai dasar pasar, memaksa sebagian besar pedagang menutup kios mereka dan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Suasana yang biasanya ramai oleh tawar-menawar berubah menjadi lengang. Hanya segelintir kios yang masih terlihat buka, sementara lorong-lorong pasar lebih mirip kolam yang memantulkan cahaya lampu. Genangan itu tidak hanya mengganggu, tetapi secara nyata melumpuhkan denyut nadi perekonomian di salah satu pasar tradisional yang cukup ramai di wilayah Jakarta Selatan tersebut.

Dampak Langsung pada Pedagang

Bagi para pedagang, banjir bukan sekadar soal genangan air, melainkan ancaman langsung terhadap penghidupan mereka. Tanpa pembeli yang datang, kerugian material pun tak terhindarkan. Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Dedi Andria.

Dia mengungkapkan, omzet hariannya yang biasanya bisa mencapai puluhan juta rupiah, hari itu dipastikan nihil. Kerugian yang harus ditanggungnya diperkirakan sangat besar.

"Enggak ada omzetnya, dapat nol rupiah. Kalau biasanya kan bisa saja mencapai Rp50 juta. Ya orang enggak ada pembelinya," ucap Dedi, Jumat.

Penyebab dan Kondisi Drainase

Menurut penuturan pedagang di lokasi, banjir kali ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak malam hari. Namun, faktor utama yang memperparah genangan adalah kondisi saluran air atau drainase di sekitar pasar yang sudah tidak berfungsi optimal.

Dedi menjelaskan bahwa gorong-gorong yang mampet menjadi penyebab air mudah meluap masuk ke dalam area pertokoan.

"Kalau gorong-gorongnya mampet, air masuk ke dalam pasar pasti," katanya.

Kejadian ini kembali menyoroti persoalan infrastruktur drainase dan sistem pengendalian banjir di kawasan padat aktivitas seperti pasar tradisional. Meski banjir mulai surut seiring berjalannya hari, dampak ekonominya akan terus dirasakan oleh para pedagang yang kehilangan pendapatan harian mereka.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar