Di tengah gencarnya perang tarif, data defisit yang membengkak ini memantik analisis menarik. Eugenio Aleman, Kepala Ekonom Raymond James, memberikan pandangannya.
"Defisit pada 2025 menunjukkan kecilnya pengaruh tarif, untuk saat ini, terhadap tingkat defisit secara keseluruhan," ujarnya.
Pernyataannya cukup beralasan. Faktanya, tingkat tarif efektif di AS pada 2025 mencapai 7,7 persen level tertinggi sejak 1947! Tapi nyatanya, defisit perdagangan barang tetap saja meroket.
Pemerintahan Presiden Donald Trump punya klaim sendiri soal ini. Mereka yakin kebijakan tarif yang diterapkan akan menjadi senjata ampuh. Tujuannya dua: mengembalikan lapangan kerja di sektor manufaktur dan tentu saja, menekan defisit perdagangan yang sudah menggunung itu. Waktulah yang akan membuktikan.
Artikel Terkait
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta
Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 dan Besaran Bantuannya