Memang, situasinya tak sederhana. Sebagian kelompok sudah memastikan Ramadan dimulai 18 Februari 2026. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat hilal belum memenuhi kriteria pada tanggal tersebut. Menurut Cholil, kemungkinan besar posisi hilal masih di bawah 3 derajat. Padahal, forum ulama Asia Tenggara atau Mabims yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei pernah bersepakat bahwa hilal baru bisa dilihat jika sudah di atas 3 derajat.
Jadinya, ya, ada yang mulai puasa tanggal 18, ada yang tanggal 19. “Saya berharap semuanya memaklumi hal ini,” katanya. Yang penting, bagi Cholil, adalah bagaimana ibadah bisa dijalankan dengan baik dan khusyuk, terlepas dari perbedaan hitungan itu.
Dia pun menegaskan hal yang lebih prinsipil: jangan sampai ada gesekan yang merusak ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan sesama Muslim itu, dalam pandangannya, merupakan jalan penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Intinya, jangan sampai perbedaan justru mengikis hal yang jauh lebih esensial.
Artikel Terkait
Industri Otomotif Usulkan Ganti Pajak Bensin dengan Tarif Berbasis Berat Kendaraan
Libur Panjang Paskah, 352 Ribu Kendaraan Padati Gerbang Tol Keluar Jabotabek
Video Adu Mulut dan Senggolan Mobil Sempat Tutup Jalan di Tol Pelabuhan
Lima Oknum TNI Hadapi Proses Hukum Internal Terkait Pengeroyokan di Kafe Toraja