Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, M Cholil Nafis, memprediksi awal Ramadan tahun depan bakal berbeda di kalangan umat Islam Indonesia. Namun begitu, dia mengingatkan keras agar perbedaan penentuan itu jangan sampai memicu perpecahan.
“Saya berharap masyarakat sudah dewasa,” ujar Cholil dalam sebuah keterangan resmi, Senin (16/2/2026).
“Ini masalah khilafiyah fikr atau masalah perbedaan pemikiran. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi jadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak,” lanjutnya.
Memang, situasinya tak sederhana. Sebagian kelompok sudah memastikan Ramadan dimulai 18 Februari 2026. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat hilal belum memenuhi kriteria pada tanggal tersebut. Menurut Cholil, kemungkinan besar posisi hilal masih di bawah 3 derajat. Padahal, forum ulama Asia Tenggara atau Mabims yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei pernah bersepakat bahwa hilal baru bisa dilihat jika sudah di atas 3 derajat.
Jadinya, ya, ada yang mulai puasa tanggal 18, ada yang tanggal 19. “Saya berharap semuanya memaklumi hal ini,” katanya. Yang penting, bagi Cholil, adalah bagaimana ibadah bisa dijalankan dengan baik dan khusyuk, terlepas dari perbedaan hitungan itu.
Dia pun menegaskan hal yang lebih prinsipil: jangan sampai ada gesekan yang merusak ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan sesama Muslim itu, dalam pandangannya, merupakan jalan penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Intinya, jangan sampai perbedaan justru mengikis hal yang jauh lebih esensial.
Artikel Terkait
Disney Tuduh TikTok Latih AI dengan Konten Marvel dan Star Wars Tanpa Izin
PHR Catat Produksi 1.274 BOPD dari Sumur Baru di Blok Rokan
Presiden Prabowo Bertolak ke AS untuk Tandatangani Perjanjian Dagang Bersejarah
Bapanas Catat Harga Daging Kerbau dan Minyak Goreng Naik Jelang Imlek-Ramadan