MURIANETWORK.COM - Pertumbuhan proyek energi angin dan surya global melambat pada 2025, dengan kenaikan hanya 11 persen. Angka ini turun signifikan dari pertumbuhan 22 persen yang tercatat pada tahun sebelumnya. Analisis terbaru dari Global Energy Monitor (GEM) mengungkapkan bahwa perlambatan ini dipicu oleh tantangan politik dan ekonomi di negara-negara maju, sementara pusat pertumbuhan kini bergeser ke negara berkembang, dengan China masih memimpin secara dominan.
Hambatan Politik dan Lelang di Negara Maju
Laju ekspansi energi bersih menghadapi rintangan baru, terutama di kawasan-kawasan yang sebelumnya menjadi penggerak utama. Berbagai faktor, mulai dari dinamika politik dalam negeri hingga kegagalan dalam proses lelang proyek, disebutkan memperlambat laju investasi dan pembangunan. Situasi ini terasa khususnya di sektor tenaga angin.
Analis Global Energy Monitor, Diren Kocakusak, menjelaskan kondisi yang dihadapi para pengembang. “Pengembang tenaga angin mengalami hambatan politik dan serangkaian kegagalan lelang di negara-negara kaya,” ungkapnya.
Langkah-langkah kebijakan di beberapa negara turut memberi dampak nyata. Di Amerika Serikat, misalnya, Presiden Donald Trump diketahui telah memblokir sejumlah proyek tenaga angin sejak kembali menjabat awal tahun lalu. Kebijakan ini selaras dengan catatannya yang kerap menunjukkan sikap skeptis terhadap transisi energi terbarukan.
Pergeseran Pusat Pertumbuhan ke Negara Berkembang
Dalam lanskap yang berubah ini, temuan GEM menunjukkan pola yang menarik. Kontribusi negara-negara kaya anggota G7 terhadap pertumbuhan kapasitas baru ternyata hanya sebagian kecil. Momentum justru kini bergerak kuat ke negara-negara berkembang yang haus energi dan banyak yang memiliki sumber daya melimpah.
Di antara semua negara, China tetap menjadi pemain raksasa yang tak tertandingi. Selama bertahun-tahun, negeri Tirai Bambu itu terus memperluas kapasitas energi terbarukannya dalam skala yang masif, jauh melampaui upaya negara mana pun.
Dominasi China dalam arena ini benar-benar terlihat dari angka-angka yang dirilis. Negeri itu menyumbang sekitar sepertiga dari seluruh pertumbuhan kapasitas global pada 2025, dengan penambahan sekitar 1,5 terawatt. Jumlah tersebut bahkan lebih besar daripada gabungan capaian enam negara di peringkat bawahnya, mempertegas posisinya sebagai pusat industri energi hijau dunia.
Artikel Terkait
Bandara Pinang Kampai Dumai Kembali Beroperasi Setelah Direaktivasi
RMKE Mulai Buyback Saham Senilai Rp9,89 Miliar dari Program Rp200 Miliar
Stok Beras Bulog Diproyeksikan Capai 6 Juta Ton, Kapasitas Gudang Jadi Tantangan
Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Penjualan Motor dan Mobil