Laba bersih PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI pada 2025 tercatat naik 8,02 persen year-on-year. Angkanya mencapai Rp7,57 triliun. Torehan ini, meski positif, ternyata tidak diraih dengan mudah.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengakui tahun lalu penuh tantangan. Fundamental bisnis harus diidentifikasi ulang untuk bisa tumbuh di tengah ekosistem perbankan syariah yang tak selalu bersahabat.
"Kami memang tahun lalu di situasi yang paruh pertama tidak mudah," ujar Anggoro.
Dalam Podcast The Fundamentals di YouTube IDX Channel, Selasa (10/2/2026), ia menjelaskan lebih rinci. Likuiditas sempat ketat, sementara NPL atau kredit bermasalah mulai menunjukkan tren naik. Kualitas pembiayaan pun ikut tertekan.
Namun begitu, situasi berubah di paruh kedua tahun. Fokus korporasi dialihkan untuk meraih profitabilitas dari dana murah, yang sumber utamanya adalah pertumbuhan tabungan yang cukup signifikan. Strateginya jelas: perbaiki kualitas pembiayaan dan tingkatkan yield. "Jadi paruh kedua itu fokus itu saja," tutur Anggoro.
Ia bersyukur karena BSI punya dua "mesin" yang andal. Yang pertama tentu saja bisnis perbankan syariah itu sendiri. Di sini, pertumbuhan tabungan menjadi penopang utama. Tahun lalu, bank ini berhasil mencatatkan dua juta tabungan baru. Yang menarik, di dalamnya termasuk tabungan haji dan tabungan emas.
Angka untuk tabungan haji cukup mencengangkan. Menurut catatan internal BSI, di paruh kedua 2025, sedikitnya 150 ribu tabungan haji baru dibuka setiap bulannya. Pihak bank aktif mendorong masyarakat untuk merencanakan ibadah haji lebih awal.
"Kami dorong bahwa naik haji itu butuh waktu, ayo sekarang mulai buka (tabungan)," kata Anggoro.
Bagi calon nasabah dengan kemampuan ekonomi lebih baik, BSI juga menawarkan solusi. Mereka bisa menggunakan produk mitraguna cicilan untuk haji khusus, dengan tenor hingga 7 atau 8 tahun.
Mesin kedua yang tak kalah penting adalah layanan bullion bank atau bank emas. Kontribusinya besar, sekitar 500 ribu tabungan dari total pertumbuhan dua juta tadi. Menurut Anggoro, akselerasi di sektor ini tak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat. Mereka mulai melihat emas sebagai instrumen investasi yang menjanjikan, meski harganya fluktuatif.
"Mereka akhirnya merasa bahwa memang perlu tabungan emas," ucapnya.
Di sisi lain, kondisi harga emas yang menarik turut mendongkrak minat. Kombinasi dari kedua engine inilah yang akhirnya membawa BSI meraih laba bersih triliunan di tengah tahun yang bergejolak.
Artikel Terkait
Prabowo Gelar Pertemuan Strategis 4,5 Jam dengan Lima Pengusaha di Hambalang
Pemerintah Siapkan Ekspor Beras dan Ikan untuk Pasokan Pangan Jamaah Haji 2026
Laporan: IDF Hadapi Krisis Sumber Daya Manusia Terparah Sejarah Akibat Beban Konflik
Pansel Resmi Dibentuk, Pencarian Pimpinan Baru OJK Dibuka hingga Maret 2026