Batik Keris Solo Bertahan Seabad dengan Strategi Heritage dan Teknologi

- Minggu, 08 Februari 2026 | 11:15 WIB
Batik Keris Solo Bertahan Seabad dengan Strategi Heritage dan Teknologi

MURIANETWORK.COM - Di tengah arus mode yang cepat berubah, Batik Keris, jenama legendaris asal Solo, justru menunjukkan ketangguhannya. Dengan usia hampir satu abad, perusahaan ini tidak sekadar bertahan, tetapi aktif beradaptasi dengan memadukan warisan budaya (heritage) dan teknologi (tech). Strategi hybrid ini, termasuk ekspansi digital melalui platform seperti Shopee, menjadi kunci mereka mempertahankan relevansi di hadapan konsumen modern, khususnya generasi muda, tanpa mengikis nilai-nilai tradisi yang menjadi fondasinya.

Dari Industri Rumahan ke Pilar Budaya

Nama ‘Keris’ pertama kali digunakan pada tahun 1947 oleh Kasom Tjokrosaputro, yang berasal dari keluarga pedagang batik sejak era 1920-an. Filosofi di balik pemilihan nama itu dalam dan penuh makna: ingin menghadirkan batik yang bernilai tinggi, laksana keris sebagai pusaka Jawa yang melambangkan kehormatan, kekuatan, dan seni tinggi. Awalnya, produksi mereka berskala rumahan, hanya menghasilkan belasan potong batik tulis per bulan. Kini, setelah melalui perjalanan panjang, Batik Keris telah tumbuh menjadi industri besar dengan lebih dari 1.500 karyawan dan lebih dari 80 gerai offline di seluruh Indonesia.

Estafet bisnis keluarga ini kini dipegang oleh generasi penerus, yang menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Tekad untuk tetap hidup dan berarti bagi masyarakat kontemporer mendorong mereka untuk merangkul dunia digital, sambil tetap berpegang teguh pada kualitas dan autentisitas yang telah dibangun puluhan tahun.

Filosofi Modern Classic dan Kualitas yang Diwariskan

Strategi heritage tech Batik Keris diwujudkan melalui beberapa komitmen inti. Pertama, lewat penciptaan koleksi dengan filosofi Modern Classic yang siap pakai. Setiap desain dirancang agar batik dapat dinikmati oleh semua kalangan, dari anak sekolah hingga profesional, tanpa kehilangan roh tradisinya. Koleksi dibuat terbatas untuk menjaga eksklusivitas, namun tetap mudah diadopsi dalam keseharian.

Pilar kedua adalah loyalitas pelanggan yang dibangun di atas kualitas premium. Integritas sistem produksi vertikal dari pemilihan bahan, desain motif oleh desainer internal, proses pembatikan, hingga penjahitan menjadi jaminan konsistensi mutu. Bukti nyata dari daya tahan produk mereka seringkali datang langsung dari pelanggan setia.

Andy Rusli, Direktur Batik Keris, menuturkan pengalaman menarik tersebut. "Kualitas kami ini terbukti, karena memang banyak pelanggan yang datang kembali ke toko mengenakan baju Batik Keris yang mereka beli 20 atau 25 tahun lalu, dan warnanya tetap bagus. Bahkan beberapa anak muda mengenakan baju Batik Keris turunan dari orang tuanya," ujarnya.

Beradaptasi Cepat di Arena Digital

Langkah strategis berikutnya adalah optimalisasi bisnis di ranah digital. Kehadiran toko resmi Batik Keris di Shopee Mall sejak 2021 bukan sekadar perluasan kanal penjualan, tetapi juga menjadi penanda autentisitas di ruang daring yang begitu luas. Untuk mendukung ini, perusahaan membentuk tim digital khusus yang fokus pada strategi penjualan dan komunikasi.

Keseriusan adaptasi digital ini membuahkan hasil nyata. Andy Rusli menjelaskan lebih lanjut, "Di sepanjang tahun 2025, Batik Keris bahkan berhasil mencapai pertumbuhan penjualan hingga lebih dari 50 persen berkat pemanfaatan program dan fitur interaktif Shopee. Fokus kami juga berlanjut pada tren live streaming, Shopee Live kini dilakukan setiap hari mulai jam 6 pagi hingga 10 malam. Tak hanya untuk memperkenalkan produk, kanal ini menjadi sarana edukasi akan nilai batik di era modern."

Melampaui Bisnis: Memberdayakan Komunitas

Eksistensi Batik Keris tidak berhenti pada pencapaian komersial. Melalui unit Keris Griya, mereka aktif membina dan memberdayakan UMKM serta seniman lokal dari berbagai daerah, membantu memasarkan beragam kerajinan tangan mulai dari tekstil, kayu, hingga keramik. Komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat ini telah diakui pemerintah melalui penghargaan Upakarti sejak 1985.

Perjalanan hampir satu abad Batik Keris memberikan pelajaran berharga bagi industri kreatif nasional. Digitalisasi dan teknologi, jika disikapi dengan strategi yang tepat, bukanlah ancaman bagi tradisi. Justru, keduanya bisa menjadi instrumen ampuh untuk melestarikan identitas budaya, membuatnya tetap relevan, hidup dalam keseharian, dan kompetitif di panggung yang lebih global.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar