Bagi Justisia Dewi, jam tangan itu lebih dari sekadar alat penunjuk waktu. Itu adalah bagian dari identitas, benda personal yang melekat di pergelangan dan bercerita. Dari filosofi sederhana itulah, pada 2021, Ma.ja Watch Indonesia lahir. Brand ini berawal dari dua hal: kecintaan pada jam tangan dan kepedulian terhadap lingkungan. Kini, ia tumbuh jadi salah satu merek jam tangan kayu dengan identitas budaya Indonesia yang paling kuat.
Di baliknya, tentu ada perjalanan panjang. Justisia, sang founder, konsisten memadukan desain modern dengan kriya tradisional, lalu membubuhinya dengan nilai keberlanjutan. Menurutnya, jalan itu jadi lebih terang setelah Ma.ja Watch bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI.
“Jam tangan bagi saya bukan sekadar penunjuk waktu, tetapi bagian dari identitas pemakainya,” ujar Justisia.
“Karena itu, Ma.ja Watch dirancang dengan cerita, nilai, dan sentuhan budaya Indonesia.”
Gagasannya sederhana tapi punya kedalaman: menciptakan jam tangan dari kayu dan material ramah lingkungan bahkan memanfaatkan limbah sumpit yang fungsional sekaligus punya makna. Hasilnya? Produk yang tidak hanya dipakai, tapi juga ‘dituturkan’. Proses pengerjaannya melibatkan pengrajin lokal dari Tangerang Selatan hingga Yogyakarta, dengan manajemen brand berpusat di Cinere. Saat ini, selain punya lokasi usaha di Depok, produk Ma.ja Watch sudah bisa ditemui di gerai ritel ternama seperti Alun-Alun Grand Indonesia dan Metro Margocity Depok.
Kalau dilihat koleksinya, inspirasi budaya dan kearifan lokal memang kental sekali. Ada seri Srikandi yang terinspirasi dari pewayangan, lalu Bajo, Arjuna Srikandi, dan Kupu Sayap Renda yang mengangkat tema alam dan daerah. Nilai kesabaran dan ketelitian pengrajin tangan menjadi ruhnya. Namun begitu, perjalanan tak selalu mulus. Di awal, edukasi pasar jadi tantangan terberat. Jam tangan kayu kan belum umum di sini. Belum lagi soal menjaga konsistensi kualitas produksi kriya yang butuh perhatian ekstra.
Untuk bertahan, mereka fokus pada tiga hal: kualitas produk, penguatan storytelling, dan kolaborasi erat dengan pengrajin lokal. Inovasi desain dan gencarnya memanfaatkan kanal digital juga jadi strategi ampuh untuk menjangkau lebih banyak calon pelanggan.
Artikel Terkait
Bus Mogok Picu Kemacetan 9,7 Km di Arus Balik Lingkar Gentong
One Way Nasional Diperpanjang Lagi hingga KM 459 Tol Semarang-Solo
Jasa Marga Tutup Sementara Rest Area KM 52B Arah Jakarta Antisipasi Arus Balik
Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Capai 285 Ribu Kendaraan di Tol Trans Jawa