Coba lihat kolom komentar di bawah postingan akun berita. Berantakan, kan? Penuh dengan ego dan debat kusir. Nah, itulah salah satu wajah interaksi real time yang problematik itu.
Nichols menyebut perpaduan antara hiburan, berita, dan partisipasi warga ini sebagai sebuah kekacauan. Kekacauan yang nggak banyak memberi informasi, tapi justru menciptakan ilusi bahwa kita sudah pintar. Misalnya, karena sudah klik banyak link, kita merasa sudah belajar. Atau karena tonton berita seharian, kita merasa paham suatu isu. Ujung-ujungnya, kita malah menolak mempelajari hal-hal yang butuh waktu lama atau kurang menarik.
Lho, Tapi Pakar Juga Bisa Salah
Memang, pakar juga manusia. Mereka bisa keliru. Dan konsekuensi kesalahan pakar bisa besar, mulai dari kerugian materi sampai bahaya yang mengancam jiwa.
Namun begitu, masyarakat sering diminta untuk percaya bulat-bulat. Seolah-olah pilihan lain nggak ada. Nichols punya pendapat lain. Menurutnya, masyarakat justru harus mendidik diri sendiri, bukan cuma tentang isu penting, tapi juga tentang track record orang-orang yang mereka dengarkan. Masyarakat harus lebih kritis memilih siapa yang layak dipercaya.
Dia mencontohkan usulan Philip Tetlock untuk mengawasi rekam jejak para pakar. Tujuannya, memaksa mereka untuk memberikan saran yang lebih baik dan berbasis kebenaran, bukan sekadar menyenangkan kelompok seide.
Penutup
Buat saya pribadi, buku Matinya Kepakaran ini sangat relate dengan kehidupan kita, khususnya di ruang digital. Walaupun konteks yang dibahas Nichols adalah Amerika, esensi masalahnya sama persis dengan yang kita alami di Indonesia.
Tentu, ada kekurangannya. Karena latarnya Amerika, beberapa contoh kasus seperti debat Affordable Care Act mungkin kurang familiar bagi pembaca Indonesia. Tapi, hal itu nggak mengurangi nilai bukunya.
Pada akhirnya, buku ini adalah cermin yang jernih untuk kita berkaca. Ia mengajak kita berefleksi, agar bisa lebih dewasa dan bijak dalam menelan informasi, terutama di internet dan media sosial.
Identitas Buku
Judul: Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya
Penulis: Tom Nichols
Penerjemah: Ruth Meigi P.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tanggal Terbit: Desember 2018
Jumlah Halaman: xvii 293 halaman
Artikel Terkait
Dari Piring Sekolah, Kadin Lihat Geliat Ekonomi dan Target 8 Persen
Dustira: Saksi Bisu Sejarah yang Tetap Berdenyut di Cimahi
Airbnb Rekrut Mantan Bos AI Meta untuk Pacu Inovasi Teknologi
Yang Penting Pesannya Bagus: Menguak Bahaya di Balik Nasihat yang Tampak Bijak