Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar

- Minggu, 11 Januari 2026 | 22:30 WIB
Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar

Gelombang demonstrasi di Iran yang berubah menjadi kerusuhan memakan korban jiwa yang signifikan. Menurut laporan dari kantor berita Tasnim, angka personel keamanan yang tewas mencapai 109 orang. Namun begitu, data resmi korban jiwa secara keseluruhan masih simpang siur dan belum bisa dipastikan.

Media pemerintah sendiri mengakui puluhan anggota pasukan keamanan meninggal selama aksi protes yang dipicu krisis ekonomi. Siaran televisi pemerintah pada Minggu (11/1/2026) menyebutkan, 30 anggota polisi dan pasukan keamanan tewas di provinsi Isfahan. Enam lainnya gugur di Kermanshah, wilayah barat Iran.

Bukan cuma aparat yang jadi korban. Situasinya benar-benar mencekam. Palang Merah Iran melaporkan seorang stafnya meninggal setelah serangan terhadap salah satu gedung mereka di Gorgan. Di Mashhad, kota di timur Iran, sebuah masjid dilaporkan dibakar pada Sabtu malam.

Angka-angka korban ini muncul di saat pemerintah berusaha keras meredam aksi unjuk rasa terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ribuan orang turun ke jalan, diliputi kemarahan atas biaya hidup yang melambung tinggi dan inflasi yang tak terkendali.

Meski Kementerian Dalam Negeri menyatakan kerusuhan mulai mereda, ancaman hukum justru mengeras. Jaksa Agung memberi peringatan serius: mereka yang terlibat kerusuhan bisa menghadapi hukuman mati.

Pernyataan keras juga datang dari pejabat keamanan tinggi, Ali Larijani. Pada Sabtu, dia menuduh segelintir demonstran melakukan pembunuhan.

"Tindakan mereka sangat mirip dengan apa yang dilakukan ISIS," ujarnya, merujuk pada kelompok bersenjata ISIL.

Seorang akademisi Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, memberikan pandangannya pada Al Jazeera. Menurutnya, demonstrasi yang berjalan dua minggu ini berubah jadi kekerasan pada Kamis lalu.

"Itu salah satu hari paling menakutkan di Iran, termasuk di Teheran," katanya.

Dia menambahkan, intensitas kekerasan memang berkurang dalam dua hari terakhir. Menurut Ahmadian, hal ini terjadi karena adanya konfrontasi dengan pelaku kekerasan, dan juga karena masyarakat mulai menjauhi aksi-aksi brutal tersebut.

"Mayoritas warga memang tidak senang dengan kondisi ekonomi. Tapi mayoritas juga benci kekerasan," tegasnya.

Di tengah situasi panas ini, Presiden Masoud Pezeshkian tampil di televisi pemerintah hari Minggu. Dia membahas rencana ekonomi dan apa yang disebutnya sebagai "tuntutan rakyat". Namun pidatonya juga diwarnai nada konfrontatif terhadap pihak asing.

Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berupaya menciptakan kekacauan di Iran dengan menyulut kerusuhan. Dia pun menyeru warga Iran untuk menjauhi apa yang disebutnya sebagai "perusuh dan teroris".

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar