Ekspor Sawit dan Batu Bara Anjlok, Tapi Neraca Dagang 2025 Tetap Tumbuh

- Senin, 05 Januari 2026 | 14:45 WIB
Ekspor Sawit dan Batu Bara Anjlok, Tapi Neraca Dagang 2025 Tetap Tumbuh

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) soal ekspor kita di November 2025 cukup menarik. Ternyata, dua komoditas andalan kita, minyak sawit dan batu bara, sama-sama mengalami penurunan volume. Kalau dilihat dari angkanya, penurunan untuk kelapa sawit itu yang paling tajam.

Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, membeberkan rinciannya dalam sebuah jumpa pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).

“Jadi volume ekspor untuk sawit pada bulan November 2025 adalah sebesar 1,36 juta ton dengan perubahan secara year-on-year-nya itu turun sebesar 28,86 persen,”

Menurutnya, kondisi ini jelas mencerminkan dinamika pasar global yang lagi tak menentu. Bisa jadi karena permintaan yang melemah, atau mungkin juga ada penyesuaian jadwal pengiriman dari para eksportir.

Batu bara pun tak luput dari tren serupa. Komoditas panas ini masih jadi penyumbang devisa utama, meski harus menghadapi tekanan permintaan dari luar negeri. Volumenya tercatat 34,17 juta ton, turun tipis 2,72 persen dibanding November tahun sebelumnya.

Namun begitu, jangan dulu berburuk sangka. Kalau kita lihat gambaran besarnya sepanjang 2025, ceritanya berbeda. Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif justru masih tumbuh positif, mencapai USD256,56 miliar atau naik 5,61 persen dari tahun sebelumnya. Pencapaian ini terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang melesat 7,07 persen, sementara ekspor migas justru anjlok cukup dalam.

Nah, untuk bulan November 2025 sendiri, nilai ekspornya memang terkoreksi jadi USD22,52 miliar, turun 6,60 persen dari November 2024. Tapi lagi-lagi, ini baru potret satu bulan.

Dari sisi mitra dagang, China tetap yang terbesar dengan nilai ekspor nonmigas kita ke sana mencapai USD58,24 miliar. Ekspor ke Amerika Serikat, ASEAN, dan Uni Eropa juga meningkat. Di sisi lain, pengiriman ke India justru mencatatkan penurunan.

Ada satu hal yang menarik. Meski volume ekspor CPO turun drastis di November, nilai kumulatifnya sepanjang Januari-November 2025 justru naik signifikan, 19,15 persen. Sebaliknya, nilai kumulatif batu bara malah turun 20 persenan. Apa artinya? Ini mengindikasikan harga rata-rata minyak sawit di pasar global sedang kuat, sementara batu bara mungkin menghadapi tekanan harga yang lebih berat sepanjang tahun itu. Jadi, ceritanya tak melulu hitam putih.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar