Ledakan mengguncang Caracas sebelum fajar. Setidaknya tujuh kali bunyi menggelegar itu memecah kesunyian ibu kota Venezuela, Sabtu (3/1/2025) dini hari, menandai dimulainya serangan militer Amerika Serikat. Sasaran mereka? Beragam fasilitas, baik militer maupun sipil.
Respons dari pemerintah Venezuela pun datang cepat. Presiden Nicolás Maduro tak menunggu lama untuk memberlakukan status keadaan darurat nasional. Situasinya jelas sudah genting.
Menteri Luar Negeri Yvan Gil, dengan nada keras, langsung menuding motif di balik serangan ini. Menurutnya, ini murni aksi imperialis untuk merampas kekayaan Venezuela.
“Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, khususnya minyak dan mineralnya... Mereka tidak akan berhasil,” tegas Gil seperti dilaporkan sebuah media internasional.
Di sisi lain, Maduro dikabarkan telah menandatangani dekrit yang menyatakan negara dalam kondisi "kekacauan eksternal". Ia juga memerintahkan agar semua rencana pertahanan nasional siap dijalankan kapan pun diperlukan. Pemerintahnya mendesak semua kekuatan politik di dalam negeri untuk bersatu dan mengutuk agresi AS ini.
Serangan ini, sejujurnya, bukanlah hal yang mengejutkan. Ketegangan antara Washington dan Caracas sudah memanas berbulan-bulan. Presiden AS Donald Trump kerap menuduh Maduro terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional tuduhan yang selalu dibantah habis-habisan oleh sang presiden Venezuela.
Bahkan, sejak September lalu, AS sudah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang mereka duga digunakan untuk menyelundupkan narkoba. Operasi itu berlangsung di perairan Pasifik dan Karibia.
Korban jiwa pun sudah berjatuhan. Lebih dari 110 orang dilaporkan tewas, semua berawal dari serangan pertama AS terhadap sebuah kapal di perairan internasional pada awal September lalu. Konflik ini jelas sudah meninggalkan luka yang dalam.
Artikel Terkait
Menteri Luar Negeri: Palestina Paham dan Terlibat Penuh dalam Rencana Pasukan Penjaga Perdamaian untuk Gaza
Trump Berlakukan Tarif Impor Global 10% Usai Kebijakan Sebelumnya Dibatalkan MA
Mahkamah Agung Batalkan Tarif Global Trump, Presiden Segera Ganti dengan Skema Baru 10%
Meksiko dan Kanada Terhindar dari Tarif Tinggi AS Berkat Putusan Mahkamah Agung