Di sisi lain, Maduro dikabarkan telah menandatangani dekrit yang menyatakan negara dalam kondisi "kekacauan eksternal". Ia juga memerintahkan agar semua rencana pertahanan nasional siap dijalankan kapan pun diperlukan. Pemerintahnya mendesak semua kekuatan politik di dalam negeri untuk bersatu dan mengutuk agresi AS ini.
Serangan ini, sejujurnya, bukanlah hal yang mengejutkan. Ketegangan antara Washington dan Caracas sudah memanas berbulan-bulan. Presiden AS Donald Trump kerap menuduh Maduro terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional tuduhan yang selalu dibantah habis-habisan oleh sang presiden Venezuela.
Bahkan, sejak September lalu, AS sudah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang mereka duga digunakan untuk menyelundupkan narkoba. Operasi itu berlangsung di perairan Pasifik dan Karibia.
Korban jiwa pun sudah berjatuhan. Lebih dari 110 orang dilaporkan tewas, semua berawal dari serangan pertama AS terhadap sebuah kapal di perairan internasional pada awal September lalu. Konflik ini jelas sudah meninggalkan luka yang dalam.
Artikel Terkait
BPJPH Buka Kuota 1,35 Juta Sertifikat Halal Gratis, Ini Syarat Lengkapnya
Operasi SAR di Sumatera Diperpanjang hingga Awal 2026
Motis KAI Dibanjiri Pemudik, Angkutan Motor Gratis Tembus 5.334 Unit
Pertamina EP Temukan Sumur Minyak Baru dengan Potensi 3.442 Barel Sehari