“Kami patokannya jarak, bukan waktu. Jadi tiap 80 sampai 100 kilometer pasti berhenti, sekalian istirahat dan ngecas. Kalau pakai fast charging, biasanya satu jam sampai 1,5 jam sudah cukup,”
jelas Agus.
Menurutnya, touring jarak jauh pakai motor listrik justru memberi sensasi berbeda. Interval berhenti yang lebih sering ternyata punya dampak positif, terutama untuk fisik pengendara.
“Yang paling terasa itu enggak capek. Walaupun jam tidur kurang, badan masih enak. Bahkan istri saya yang dulu ogah naik motor jauh-jauh, sekarang justru senang ikut touring pakai motor listrik,”
ungkapnya dengan nada bangga.
Pengalaman ini, bagi Agus, adalah bukti nyata. Motor listrik bukan cuma untuk harian. Dia juga bisa diajak bertualang, menempuh ribuan kilometer. Kuncinya cuma satu: perencanaan rute dan titik charge yang matang.
“Selama kita tahu jarak tempuh dan di mana saja bisa ngecas, sebenarnya aman. Tinggal atur ritme perjalanan saja. Kita sudah buktiin sendiri kalau motor listrik bisa dipakai touring jauh,”
pungkasnya.
Dan petualangan Agus tidak berhenti di situ. Di luar touring komunitas, ia juga kerap melakoni perjalanan jauh sendirian. Setelah sukses menaklukkan ratusan bahkan ribuan kilometer, keyakinannya makin besar. Motor listriknya siap menemani lebih banyak lagi petualangan di masa depan.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Akui Desain Coretax yang Sulit Picu Maraknya Joki Pajak
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta