Nyaris Tertinggal Kereta, Sebuah Drama Pagi di Solo yang Berakhir Damai di Bandung

- Kamis, 01 Januari 2026 | 23:06 WIB
Nyaris Tertinggal Kereta, Sebuah Drama Pagi di Solo yang Berakhir Damai di Bandung

Dengan sisa tenaga, kami menyeret koper menyusuri lorong kereta. Pakaian basah oleh keringat, tapi yang penting sudah tidak telat. Akhirnya, sampai juga di kursi kami di gerbong ekonomi 3.

Kami duduk, terengah. Hanya bisa meneguk air untuk menenangkan diri.

"Untung kita keburu," ucap Haura, memecah keheningan.
Saya manggut-manggut. "Iya. Ini pelajaran berharga. Jangan lagi."

Kereta pun mulai meluncur. Solo perlahan-lahan menjauh di balik jendela. Ketegangan tadi pelan-pelan mencair, digantikan oleh bunyi ritmis roda kereta di atas rel. Inilah saatnya bernapas.

Pemandangan di luar berganti. Sawarh hijau, anak-anak kecil yang melambaikan tangan, desa dengan kehidupan yang terlihat sekilas. Kereta melintasi Yogya, Kutoarjo, Purwokerto. Setiap stasiun punya dunianya sendiri yang kami lewati begitu saja.

Jam satu siang, perut mulai protes. Kami ke gerbong restorasi, beli makanan, lalu makan sambil menatap dunia yang bergerak di luar kaca.

Menyusuri Perut Pulau Jawa

Memasuki Jawa Barat, pemandangan berubah total. Bukit-bukit menghijau, terowongan gelap menyergap, lalu cahaya terang kembali. Di tikungan, kereta seperti meliuk pelan. Saat-saat seperti inilah yang bikin perjalanan kereta selalu spesial. Waktu terasa panjang. Ponsel pun terlupakan, kalah oleh panorama yang tak pernah sama.

Dan saya sadar, semua ketenangan ini hampir saja tak kami rasakan.

Stasiun Kiaracondong, Bandung

Menjelang sore, udara terasa lebih dingin dan lembap. Kabar bahwa Bandung sudah dekat. Saat kereta merapat di Stasiun Kiaracondong, matahari sore mulai menguning. Penumpang bergegas, mengambil barang, sibuk dengan akhir perjalanan mereka.

Saya turun dengan perasaan aneh. Lengkap. Perjalanan ini bukan cuma soal sampai, tapi tentang semua yang terjadi di antaranya. Kepanikan tadi pagi, yang rasanya seperti akhir dunia, kini jadi bagian dari cerita.

Nyaris tertinggal kereta mengajarkan satu hal: kita sering terlalu yakin pada waktu. Padahal, yang paling berkesan justru cerita di sepanjang jalan yang tak terduga. Dan cerita kami kali ini, berawal dari lari terbirit-birit di Solo, dan berakhir dengan damai di Bandung.


Halaman:

Komentar