Sebelum meminta rapat dilanjutkan, Prabowo kembali menegaskan prinsip dasar tugas TNI. "Tidak mengenal lelah, berbakti kepada negara dan bangsa. Oke, lanjut," pintanya. Poinnya jelas: bagi prajurit, ini soal pengabdian, bukan sekadar urusan kelelahan.
Sebelum insiden koreksi istilah ini, Suharyanto sebenarnya sedang menjelaskan kendala teknis anggaran. Dukungan untuk Mabes TNI, yang diminta sekitar Rp80 miliar lebih, baru terealisasi Rp26 miliar. Bukan karena dananya tak ada. Masalahnya ada di administrasi penutupan akhir tahun.
"Pertanggungjawaban keuangan di tanggal 31 Desember kan harus selesai, Bapak. Nanti dimulai lagi di tanggal 1 Januari ini," jelas Suharyanto. Jadi, soal anggaran sebenarnya tidak ada masalah.
Di sisi lain, untuk penanganan infrastruktur seperti jembatan yang rusak, BNPB punya mekanisme khusus. Mereka membiayai dulu, bekerja lebih dulu. Baru setelah pekerjaan selesai dan diaudit, penggantian anggaran ditagihkan ke Kementerian Keuangan. Prinsipnya, yang penting proses perbaikan jalan terus, birokrasi menyusul.
Rapat yang berlangsung dalam kunjungan Prabowo meninjau pembangunan hunian Danantara itu pun berlanjut. Namun, kesan dari koreksi singkat itu jelas: di mata Presiden, semangat prajurit tak boleh dikaitkan dengan kata "lelah".
Artikel Terkait
BRI Pacu Transformasi, Sasarkan Take-Off pada 2026
PSSI Siap Resmikan John Herdman, Pacu Proyek Naturalisasi Pascal Struijk
Ragunan Diprediksi Dikunjungi 100 Ribu Orang di Puncak Liburan
Prabowo Tanggapi Kritik Nyinyir: Pemimpin Harus Siap Dihujat, Tapi Fokus Tetap ke Rakyat