Pemerintah lewat Kementerian Haji dan Umrah RI punya misi jelas: membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah yang benar-benar bisa dirasakan rakyat. Khususnya, bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta diaspora kita di Arab Saudi. Ini bukan sekadar wacana, tapi komitmen yang sedang dijalankan.
Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, langkah ini diambil untuk menjawab kegelisahan selama ini. Banyak yang bertanya-tanya, ke mana sebenarnya mengalirnya manfaat ekonomi dari penyelenggaraan ibadah haji dan umrah? Selama ini, nilai ekonominya seolah lebih banyak dinikmati di luar negeri.
"Pengembangan ekosistem ini dirancang agar nilai ekonomi haji dan umrah tidak hanya dinikmati di luar negeri, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi UMKM dan pelaku usaha Indonesia," tegas Jaenal dalam keterangannya, Selasa (30/12/2025).
Nah, dengan haji perdana yang akan dikelola langsung Kemenhaj RI pada musim 1447 H/2026 mendatang, pemerintah mendorong keterlibatan UMKM lokal. Fokusnya di sektor konsumsi dan logistik untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Mereka sudah memetakan pemasok, produsen, dan UMKM yang punya potensi. Ini jadi fondasi untuk membangun rantai pasok yang terstruktur dan berkelanjutan.
Hasilnya? Sudah ada 12 UMKM yang dilibatkan untuk pemenuhan konsumsi pada penyelenggaraan haji nanti. "Ini menjadi langkah awal untuk memperkuat peran UMKM dalam rantai nilai ekonomi haji," tutur Jaenal.
Di sisi lain, soal rasa juga tak kalah penting. Kemenhaj RI mengundang dua syarikah untuk memastikan penggunaan makanan siap saji (Ready To Eat) dan bumbu khas Indonesia. Tujuannya, agar jamaah tetap bisa menikmati cita rasa nusantara meski jauh dari tanah air.
Jaenal punya pandangan menarik soal ini. "Masakan dengan rasa Indonesia bukan hanya soal selera, tetapi juga bagian dari kenyamanan jamaah serta peluang besar bagi produk pangan nasional," katanya.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga menjembatani pertemuan dengan importir dan eksportir. Tujuannya agar produk Indonesia seperti beras, lauk, sayuran, dan kebutuhan konsumsi lain bisa lebih mudah masuk ke Arab Saudi dan digunakan dalam operasional haji. Pelibatan UMKM ini punya tujuan jangka panjang: membangun kapasitas, memenuhi standar mutu, dan akhirnya meningkatkan daya saing mereka di kancah global.
Persiapan lain yang sedang digarap adalah skema kerja sama dengan syarikah atau perusahaan layanan haji di Arab Saudi. Kerja sama ini diharapkan bisa membuat tata kelola haji lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
"Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem haji global, sekaligus memastikan pelayanan terbaik bagi jamaah," jelasnya.
Jaenal mengakui, membangun ekosistem semacam ini tentu bukan proses yang instan. Butuh waktu dan konsistensi. Namun begitu, arah kebijakannya sudah jelas dan terukur. Impian besarnya sederhana: haji dan umrah harus menghadirkan keberkahan spiritual sekaligus manfaat ekonomi yang luas bagi bangsa.
"Haji dan umrah harus menghadirkan keberkahan spiritual sekaligus manfaat ekonomi yang luas bagi bangsa," pungkas Jaenal menegaskan.
Artikel Terkait
Pertumbuhan Energi Angin dan Surya Global Melambat, Pusat Pertumbuhan Bergeser ke Negara Berkembang
Bandara Pinang Kampai Dumai Kembali Beroperasi Setelah Direaktivasi
RMKE Mulai Buyback Saham Senilai Rp9,89 Miliar dari Program Rp200 Miliar
Stok Beras Bulog Diproyeksikan Capai 6 Juta Ton, Kapasitas Gudang Jadi Tantangan