Kisah Sukses homLiv: Brand Alat Masak Kayu Halal Pertama Indonesia & Dampaknya

- Kamis, 13 November 2025 | 13:36 WIB
Kisah Sukses homLiv: Brand Alat Masak Kayu Halal Pertama Indonesia & Dampaknya
Kisah Sukses homLiv: Brand Alat Masak Kayu Halal Pertama di Indonesia

Semangat wirausaha telah tertanam dalam diri Yudiana Lyn sejak usia dini, berkat lingkungan keluarganya yang akrab dengan dunia bisnis. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memulai karir dengan berjualan pakaian anak dan kemudian beralih menjadi importir.

Kemampuan berbahasa Mandarin yang dimilikinya menjadi aset berharga untuk membangun komunikasi langsung dengan pabrik-pabrik di luar negeri. Pada masa itu, ia berhasil menangkap peluang emas ketika permintaan pasar terhadap barang impor sedang berada di puncaknya.

Namun, di balik kesuksesan bisnis impornya, ada satu ambisi yang belum tercapai: keinginan kuat untuk membangun sebuah usaha yang mampu menggali dan mengembangkan potensi dalam negeri.

"Saya selalu menyampaikan keinginan saya kepada suami, untuk memiliki bisnis yang dapat mengolah potensi lokal. Bahkan, jika memungkinkan, kita yang mengekspor, bukan mengimpor," kenang Yudiana dalam sebuah percakapan dengan media.

Momen Pandemi Sebagai Awal Perubahan

Masa pandemi menjadi titik balik penting bagi Yudiana, seorang wanita yang berasal dari Selat Panjang, Riau. Bisnis impornya yang sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri sempat terhenti total karena kebijakan lockdown. Justru dalam situasi yang penuh tantangan ini, ia menemukan visi yang lebih jelas untuk kembali ke akar dan fokus mengembangkan produk lokal Indonesia.

Visi inilah yang kemudian melahirkan homLiv, sebuah merek perlengkapan dapur berbahan dasar kayu yang kini semakin populer di tanah air. Yudiana berhasil mengidentifikasi dan memanfaatkan tren alat masak kayu yang dianggap lebih sehat serta ramah lingkungan.

Saat ini, homLiv telah dilengkapi dengan berbagai sertifikasi penting seperti Halal, SNI ISO 9001, dan ISO 14000. Pencapaian tertingginya adalah menjadi brand alat masak kayu halal pertama di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Komitmen Nyata Pemberdayaan Pengrajin Desa Krebet

Keberadaan homLiv tidak hanya sebatas bisnis semata, tetapi juga merupakan perwujudan nyata dari komitmen Yudiana dalam memberdayakan komunitas lokal. Proses produksi homLiv berpusat di DI Yogyakarta dan melibatkan para pengrajin terampil dari Desa Wisata Krebet, Bantul, sebuah daerah yang terkenal dengan warisan seni batik kayu.

Di masa pandemi, aktivitas ekonomi di Desa Wisata Krebet sempat terhenti, memaksa banyak pengrajin untuk menjual barang berharga mereka demi mempertahankan kehidupan. Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Yudiana tergerak untuk mengambil tindakan.

Ia mengajak para pengrajin batik kayu untuk berkolaborasi dan bersama-sama mengembangkan produk homLiv. Meskipun pada awalnya banyak yang belum terbiasa, semangat belajar dan pendampingan yang intensif dari Yudiana akhirnya membuahkan hasil. Para pengrajin pun berhasil beradaptasi dan menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi.

Dalam sebuah edisi spesial, homLiv meluncurkan produk bertema "Cinta Indonesia", yaitu Sutil Kayu Jati 'Malika' yang menampilkan corak batik buatan tangan langsung oleh para pengrajin Desa Wisata Krebet. Setiap produk dibuat secara handmade dengan proses quality control yang ketat sesuai Standar Operasional Prosedur. Melalui inisiatif ini, homLiv tidak hanya menghidupkan kembali perekonomian desa tetapi juga turut melestarikan seni batik kayu yang nyaris punah.

"Kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa warisan budaya bisa dihadirkan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan modern, seperti alat masak kayu yang sekaligus membawa nilai-nilai budaya batik," jelas Yudiana.

Dampak dan Ekspansi Bisnis homLiv

Selain fokus pada pemberdayaan masyarakat, homLiv juga aktif menyuarakan isu keberlanjutan dan lingkungan. Setiap tahun, mereka secara rutin mengadakan kegiatan penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia setiap bulan November. homLiv juga kerap menggelar program "Trade In Sutil Lama, Bawa Pulang Sutil Baru", sebuah inisiatif daur ulang untuk mengolah limbah sutil kayu bekas pakai.

Kesuksesan homLiv juga didukung oleh pemanfaatan ekosistem digital secara optimal. Yudiana memanfaatkan berbagai fitur dan program yang tersedia, mulai dari iklan, siaran langsung, hingga solusi pemasaran afiliasi. Ia juga aktif berpartisipasi dalam berbagai kampanye besar seperti tanggal kembar dan event penjualan lainnya.

Kini, homLiv tidak hanya memasok produknya ke lebih dari 1.000 outlet di seluruh Indonesia, tetapi juga telah berhasil menembus pasar ekspor ke Jepang dan beberapa negara di Asia Tenggara melalui Program Ekspor.

Sebagai seorang pemenang kompetisi bisnis, Yudiana membuktikan bahwa kesuksesan sebuah usaha tidak hanya diukur dari angka penjualan, tetapi juga dari dampak positif yang dihasilkannya bagi masyarakat sekitar. Melalui homLiv, ia menunjukkan bagaimana sinergi antara pelaku UMKM, komunitas lokal, dan ekosistem digital dapat menciptakan perubahan yang signifikan.

Inovasi produk yang terus dilakukan, kemampuan bercerita yang baik, serta keahlian dalam memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar menjadi faktor pendukung utama yang membawa Yudiana meraih kemenangan. Prestasinya ini menjadi simbol semangat perempuan wirausaha Indonesia yang mampu memberdayakan diri, menginspirasi banyak orang, dan membawa potensi lokal ke tingkat nasional bahkan internasional.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar