Dari Tenun ke Tas Modern: Kisah UMKM Depok yang Naik Kelas Berkat BRI

- Minggu, 28 Desember 2025 | 09:55 WIB
Dari Tenun ke Tas Modern: Kisah UMKM Depok yang Naik Kelas Berkat BRI

Bagi banyak pelaku UMKM di Indonesia, naik kelas dan berkembang berkelanjutan seringkali terasa seperti mimpi. Tapi, mimpi itu bisa jadi nyata dengan dukungan yang tepat. Salah satunya datang dari program pemberdayaan yang digalang PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rumah BUMN. Ini bukan sekadar program pelatihan biasa, melainkan sebuah pusat pengembangan kapasitas usaha yang tersebar di berbagai daerah, dirancang untuk memberi pondasi yang kuat.

Di Depok, Jawa Barat, ada sebuah kisah yang patut disimak. La Suntu Tastio, usaha yang bergerak di bidang produksi tas, telah berdiri sejak 2010. Mereka mengolah bahan baku langsung dari pengrajin lokal mulai dari tenun, kulit, hingga batik menjadi tas-tas bernuansa modern. Namun, perjalanan mereka tak selalu mulus.

Tantangan terbesarnya dulu adalah meyakinkan pasar. Bagaimana caranya agar kain tradisional diterima sebagai bahan utama tas yang tak kalah keren dan berkualitas dibanding produk impor? Butuh waktu dan konsistensi. Mereka fokus pada desain inovatif dan menjaga mutu dengan ketat. Perlahan, usaha ini mulai dilirik, tak hanya oleh konsumen biasa, tapi juga oleh sejumlah institusi.

Pemiliknya, Indari, mengakui titik baliknya terjadi ketika bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta binaan BRI. “Saya ingin La Suntu Tastio naik kelas secara lebih profesional,” ujarnya.

“Sebagai UMKM yang sudah lama berjalan, saya merasa butuh pendampingan yang tak cuma soal produk, tapi juga strategi. Perubahan paling terasa setelah dibina adalah cara pandang saya mengelola bisnis jadi lebih terarah. Saya lebih percaya diri dan lebih siap untuk memperluas pasar,” jelas Indari dalam keterangan pers, Minggu (28/12/2025).

Dampaknya nyata. Indari tak cuma dapat pelatihan atau kurasi produk. Dia juga mendapat akses ke pasar yang lebih luas lewat promosi yang terarah. Bahkan, operasional sehari-hari jadi lebih ringan berkat pemanfaatan layanan digital BRI.

“Saya pakai BRImo dan QRIS BRI. Sangat membantu, terutama saat ikut bazar dan jualan langsung. Pengelolaan keuangan usaha jadi jauh lebih praktis,” katanya lagi.

Kini, La Suntu Tastio sudah mempekerjakan sepuluh orang dan terus melebarkan sayapnya secara nasional. Kekuatan produknya tak cuma pada desain, tapi juga pada nilai budaya yang melekat di setiap helai tenunnya. Perkembangan ini, tentu saja, tak lepas dari pendampingan yang diterima.

Menurut Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, kisah La Suntu Tastio adalah cerminan nyata dari pemberdayaan UMKM yang dijalankan secara konsisten.

“Ini contoh konkret transformasi UMKM ketika dapat akses pemberdayaan yang relevan. Rumah BUMN bukan cuma ruang pelatihan, tapi simpul pemberdayaan jangka panjang untuk mencetak UMKM tangguh. BRI akan terus perkuat infrastruktur ini agar makin banyak UMKM yang naik kelas,” tegas Akhmad.

Jadi, melalui pendekatan yang terstruktur dan menyentuh kebutuhan riil, BRI lewat Rumah BUMN-nya tak hanya membantu UMKM bertahan. Mereka mendorongnya untuk tumbuh, berkarya, dan membawa warisan budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar