“Kami fokus pada dukungan teknis, personel, dan pendampingan di lapangan sesuai tupoksi kami,” katanya.
Partisipasi itu, lanjut Novita, terutama untuk pembersihan di sekitar permukiman dan fasilitas umum. “Intinya agar kegiatan berjalan aman dan tertib,” tegasnya.
Ia meyakini, sinergi lintas sektor inilah kunci utamanya. “Dengan komando Satgas, semua bergerak bersama. Supaya akses vital, sekolah, dan lingkungan warga cepat pulih dan bisa dipakai lagi,” pungkas Novita.
Sementara di pesisir barat, pemandangan lain terlihat. Di Kota Padang, Sumatera Barat, tim gabungan UPT Kemenhut, Manggala Agni, dan Pemprov Sumbar membersihkan material kayu yang terseret ke pantai. Kerja mereka sejak 20 Desember lalu membuahkan hasil. Area sepanjang 5,6 kilometer ke arah utara berhasil dibersihkan.
Hartono dari BKSDA Sumatera Barat memaparkan caranya. Untuk kayu-kayu balokan besar, alat berat yang berbicara. Mereka disingkirkan dari bibir pantai. Sedangkan serpihan-serpihan kecil dibersihkan manual, digotong royong.
“Di spot nelayan, kayu-kayu itu kami naikkan ke darat dan dirapikan. Biar nanti masyarakat bisa mengelolanya,” jelas Hartono.
Rencananya, operasi bakal dilanjutkan. Wilayah berikutnya adalah kawasan sekitar cemara pantai hingga muara Penjalinan. Pendekatannya tetap sama: kombinasi teknologi dan tenaga manusia, demi efektivitas dan keselamatan semua pihak.
Kemenhut menegaskan, semua upaya ini dilakukan secara terkoordinir. Prinsipnya aman dan berkelanjutan. Mereka juga tengah menyiapkan skema pengelolaan kayu limbah bencana bersama pemda. Komitmennya satu: percepat pemulihan, kembalikan rasa aman, dan dukung aktivitas masyarakat yang terdampak secepat mungkin.
Artikel Terkait
Tips Hindari Kekacauan Saat Libur Panjang Akhir Pekan
Harga Cabai Anjlom, Bawang Merah dan Ayam Naik Tipis Menurut BI
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris