Bareskrim Polri bersama Kementerian Luar Negeri baru saja membawa pulang sembilan pekerja migran Indonesia yang menjadi korban tipu daya. Mereka terpikat janji manis bekerja sebagai operator komputer di Kamboja dengan gaji bulanan mencapai sembilan juta rupiah. Kenyataannya? Sangat jauh dari harapan.
Menurut Brigjen Moh. Irhamni, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim, para calon korban ini direkrut dari berbagai daerah di Indonesia. Modusnya klasik: mencari orang-orang yang punya keinginan kuat untuk bekerja ke luar negeri, khususnya Kamboja.
"Dia mencari orang-orang yang mau bekerja di luar negeri khususnya Kamboja. Kemudian dia dibiayai berangkat ke sana, paspornya, kemudian tiketnya, semua ditanggung oleh yang pencari tadi,"
kata Irhamni, Sabtu lalu.
Begitu mendarat di Bandara Phnom Penh, mereka langsung dijemput dan dibawa ke sebuah mess. Di situlah mimpi buruk dimulai. Janji pekerjaan sebagai operator komputer itu samar sekali. Para korban sendiri sebenarnya bingung, tugas spesifiknya apa.
"Sedangkan mereka sendiri kan tidak tahu, mau bekerja apa? Hanya dijawab operator komputer tadi. Tidak tahu seperti apa yang harus dia kerjakan di sana,"
jelas Irhamni, mengutip keterangan korban.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Sekolah Tetap Tatap Muka Penuh Meski Ada Kebijakan Penghematan Energi
Herdman Soroti Minim Kreativitas, Nantikan Miliano dan Marselino
Puspom TNI Ajukan Permintaan Resmi untuk Periksa Andrie Yunus di Bawah LPSK
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Proyeksi Surplus Solar dengan B50