Bagi banyak orang di Indonesia, hari belum benar-benar dimulai tanpa semangkuk soto untuk sarapan. Ragamnya luar biasa, terutama di Jawa. Dari Betawi yang kaya santan, Madura dengan daging sapi dan bumbu tajam, sampai Lamongan yang sederhana namun memikat. Tapi, jangan lupakan Kalimantan. Di sana, ada satu jenis soto yang punya cerita sendiri: Soto Banjar.
Ini bukan sekadar sup ayam biasa. Kuahnya yang keruh, berwarna kekuningan, adalah hasil dari perpaduan rempah yang diracik dengan hati-hati. Ada sensasi gurih yang unik, berasal dari susu yang memberi body pada kuah, namun tak mendominasi. Menyantapnya di tengah kesibukan kota serasa diajak berhenti sejenak, melayang ke tepian Sungai Martapura di Kalimantan Selatan, tempat asalnya.
Yang membedakannya jelas. Selain suiran ayam yang lembut, ada pelengkap yang jadi ciri khas. Perkedel kentang gurih dan sebutir telur bebek rebus selalu setia menemani. Tapi kuncinya ada di bumbu.
"Bumbu intinya itu ada biji pala sama kembang lawang. Takarannya ga boleh kurang atau kebanyakan kalau gak rasanya kurang seimbang nanti,"
kata Ibu Elin (44), yang menjalankan usaha soto Banjar rumahan di Balikpapan. Senyumnya ramah saat bercerita.
"Resepnya itu sudah turun temurun dari saya kecil. Saya coba-coba masak, cari resep sendiri ngikutin keluarga saya yang di Banjar. Akhirnya nemu takaran yang pas. Ya, banyak percobaannya lah resep ini."
Menurut sejumlah saksi, proses trial and error itu yang justru melahirkan keotentikan. Setiap sendok kuahnya adalah jembatan. Ia menghubungkan kita dengan kekayaan rempah Nusantara dan ketulusan tangan yang meraciknya.
Pada dasarnya, Soto Banjar lebih dari sekadar hidangan. Ia adalah penanda budaya, pengingat akan kehangatan sebuah keluarga dan warisan yang hidup. Jadi, lain kali Anda menikmatinya, entah di warung tenda atau restoran, coba resapi. Setiap suapan membawa kita pada perjalanan waktu, bertemu dengan generasi-generasi sebelumnya yang menjaga rasa ini tetap utuh.
Ini pengalaman yang patut dijaga. Agar "warisan dalam mangkuk" ini tetap bisa dinikmati, sama nikmatnya, oleh anak cucu kita nanti.
Mutya Andharesta Arbi, Ilmu Komunikasi 24
Artikel Terkait
Angin Puting Beliung Landa Stadion Pakansari, Kerusakan Parah tapi Tak Ada Korban Jiwa
Pemkot Tangsel Revitalisasi SDN Babakan 01 Setu, Hapus Sistem Belajar Bergilir
Presiden Prabowo Gariskan Peran BUMN Baru Agrinas Jaladri Dongkrak Sektor Perikanan
Persija Jakarta Terancam Pindah Kandang ke JIS Jelang Laga Kontra PSM