Tokyo Ritsu Doan masih mengingatnya dengan jelas. Bola itu jatuh ke kakinya, lalu ia melepaskan tembakan. Jaring bergoyang. Itulah momen yang mengubah segalanya, bukan hanya untuknya, tapi untuk seluruh timnas Jepang di Piala Dunia Qatar 2022.
Gol itu, yang ia cetak sebagai pemain pengganti melawan Jerman, adalah pembuka. Ia mengulanginya lagi melawan Spanyol. Dua raksasa Eropa tumbang berkat kontribusinya dari bangku cadangan. Bicara soal momen mana yang lebih berkesan, Doan tak ragu.
"Yang melawan Jerman," ujar penyerang berusia 27 tahun itu.
"Itu gol pertama saya di Piala Dunia. Rasanya seperti gerakan lambat. Bola datang, saya tendang, dan gol. Gambaran itu masih melekat di kepala saya sampai sekarang. Momen itu benar-benar membangkitkan semangat kami semua."
Meski perjalanan Samurai Blue terhenti di 16 besar oleh Kroasia, kemenangan-kemenangan sensasional itu sudah cukup. Mereka meninggalkan Qatar dengan kepala tegak, dan yang lebih penting, dengan kepercayaan diri yang melonjak. Dunia sepak bola pun mulai memandang mereka dengan serius.
Kini, dengan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara di depan mata, Jepang sudah lebih dulu memastikan tiket. Mereka jadi tim pertama dari Asia yang lolos, selain tuan rumah tentunya. Konsistensi mereka memang luar biasa. Sejak 1998, mereka tak pernah absen. Bahkan, sudah empat kali melaju ke babak 16 besar.
Kunci utamanya? Banyak pemain yang kini berkarier di liga-liga top Eropa. Doan sendiri sudah sembilan tahun merantau, dari Belanda lalu ke Jerman, dan kini membela Eintracht Frankfurt. Pengalaman di kancah kompetitif Eropa itu, menurutnya, mengangkat level tim nasional.
"Banyak dari kami yang main di Liga Champions atau Liga Europa. Itu langkah besar buat sepak bola Jepang," katanya.
"Standar kami naik karena terbiasa bersaing di level global."
Namun begitu, jalan menuju 2026 tak sepenuhnya mulus. Masalah mulai bermunculan. Beberapa pemain kunci seperti Zion Suzuki, Takumi Minamino, dan Takefusa Kubo sedang berjuang melawan cedera. Di lini depan, Jepang juga masih mencari striker tajam nan konsisten. Pencetak gol terbanyak mereka di kualifikasi, Ayase Ueda, hanya mengemas 8 gol jauh di bawah top scorer AFC.
Di sinilah peran seperti Doan menjadi krusial. Ia bukan lagi sekadar pemain pengganti yang jadi kejutan. Kini, ia diharapkan menjadi sosok yang bisa diandalkan, pemain yang membawa perbedaan saat tim terjepit.
"Saya rasa orang-orang mulai bergantung pada saya. Performa pribadi saya jadi sangat penting," akunya.
"Saya ingin jadi tipe pemain yang membuat timnya menang. Yang bisa diandalkan pelatih dan kawan-kawan, terutama saat keadaan sulit. Tim terbaik selalu punya pemain seperti itu."
Jepang tergabung di Grup F nanti, bersama Belanda, Tunisia, dan satu tim lagi dari play-off Eropa. Tantangannya berat. Tapi Doan dan kawan-kawan punya modal berharga: pengalaman mengalahkan juara dunia.
Bagi Doan, usia bukan penghalang. Yang penting adalah kepercayaan dari pelatih Hajime Moriyasu dan rekan setim.
"Dengan kepercayaan itu, saya merasa bisa terus berkembang. Saya akan masuk Piala Dunia ini dengan semangat yang berbeda, lebih matang," tuturnya.
"Tentu, saya ingin mencetak gol kemenangan. Tapi fokus saya sekarang adalah performa tim secara keseluruhan. Itu yang berubah dalam diri saya."
Dari pemain pengganti yang mencetak gol kejutan, menjadi tulang punggung yang diandalkan. Perjalanan Ritsu Doan mencerminkan perkembangan sepak bola Jepang itu sendiri: siap mengejutkan dunia, sekali lagi.
Artikel Terkait
AS Bebaskan Tarif Sawit hingga Kopi RI, Pelaku Usaha Soroti Tantangan Ekspor
Polisi Pasang Peringatan di Jalan IR Juanda Ciputat yang Rusak Parah
Pakar Tegaskan MKMK Tak Berwenang Batalkan Keputusan DPR Soal Hakim MK
Wamendag Ajak Hipmi Export Center Percepat Ekspor untuk Dongkrak Surplus