OECD Soroti Daya Tahan Ekonomi Global di Tengah Gejolak 2025

- Rabu, 03 Desember 2025 | 11:50 WIB
OECD Soroti Daya Tahan Ekonomi Global di Tengah Gejolak 2025

Di tengah hiruk-pikuk perang tarif yang sempat mencemaskan, ada secercah optimisme dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Lembaga ini justru memandang perekonomian dunia masih punya ketangguhan tersendiri untuk tahun 2025 ini. Ya, gejolak ada, tapi daya tahannya ternyata masih cukup baik.

“Perekonomian global telah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan pada 2025,” begitu bunyi pernyataan OECD dalam laporannya yang baru dirilis, seperti dilansir AFP, Rabu (3/12/2025).

Secara angka, mereka memproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 3,2 persen tahun ini. Angka itu memang sedikit lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu yang 3,3 persen. Namun begitu, proyeksi untuk 2026 justru bakal melambat lebih dalam, menjadi 2,9 persen. Baru setelahnya, di 2027, pemulihan diperkirakan kembali terjadi dengan ekspansi sekitar 3,1 persen.

Kalau dilihat per negara, AS tampaknya masih jadi motor penggerak. Pertumbuhan PDB Negeri Paman Sam diproyeksi mencapai 2,0 persen untuk 2025 naik 0,2 poin dari proyeksi OECD bulan September lalu. Meski akan melambat jadi 1,7 persen di tahun depan, angka ini tetap lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Di sisi lain, zona euro juga dapat sedikit angin segar. OECD merevisi naik proyeksi pertumbuhannya menjadi 1,3 persen untuk tahun ini, sebelum kemudian menguat tipis ke level 1,0 persen di 2026. Revisi naik juga terjadi untuk China, yang kini diperkirakan tumbuh 5,0 persen pada 2025.

Lantas, apa yang jadi penyebab ketahanan ini? Menurut laporan itu, permintaan terhadap barang dan jasa ternyata tetap kuat. Faktor pendorongnya beragam. Mulai dari kondisi keuangan global yang relatif longgar, kebijakan makro yang mendukung, sampai pertumbuhan pendapatan riil masyarakat. Investasi baru di seputar kecerdasan buatan (AI) juga disebut-sebut memberikan suntikan semangat.

Tapi, bukan berarti semua berjalan mulus. OECD tetap menyoroti sejumlah ancaman serius. Perselisihan perdagangan yang makin panas, ketegangan geopolitik, dan tren investasi yang lesu disebut masih jadi penghambat pertumbuhan.

Mereka juga memberikan peringatan khusus.

“Peningkatan lebih lanjut dalam hambatan perdagangan, terutama di sekitar input penting, dapat menimbulkan kerusakan signifikan pada rantai pasokan dan output global,” kata OECD.

Belum lagi soal pasar keuangan. Euforia berlebihan terhadap AI dinilai berisiko.

“Valuasi aset yang tinggi berdasarkan ekspektasi optimistis terhadap pendapatan perusahaan yang digerakkan oleh AI menimbulkan risiko potensi koreksi harga yang tiba-tiba,” imbuhnya. Jadi, optimisme itu ada, tapi kewaspadaan tetap harus dijaga. (Wahyu Dwi Anggoro)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar