Di Balairung Soesilo Soedirman, Kamis (22/11) lalu, suasana tampak berbeda. Kementerian Pariwisata secara resmi meluncurkan dokumen strategis terbaru mereka: Indonesia Tourism Outlook 2025/2026. Acara bertajuk Wonderful Indonesia Outlook 2025 ini bukan sekadar formalitas belaka, melainkan forum yang menghimpun pandangan dan strategi dari berbagai pemangku kepentingan pariwisata.
Hadir dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Wamenpar Ni Luh Puspa. Mereka berdiri di antara para undangan dengan satu misi jelas memperkenalkan panduan komprehensif untuk membaca arah pariwisata nasional dua tahun ke depan.
Yang menarik, dokumen ini justru tidak fokus pada mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Sebaliknya, Kemenpar menekankan perlunya pergeseran menuju pariwisata berkualitas. Apa maksudnya? Kualitas di sini mencakup keberlanjutan lingkungan, inklusivitas sosial, dan tentu saja dampak ekonomi jangka panjang yang lebih berarti bagi masyarakat lokal.
Menurut sejumlah analisis, industri pariwisata global memang sedang bergerak cepat mengikuti tren-tren baru. Indonesia, di sisi lain, harus membangun fondasi kuat agar tetap relevan dan kompetitif. Tema "Quality Sustain Future" yang diangkat pun disebut sangat selaras dengan visi Presiden Prabowo untuk ekonomi berkelanjutan.
Outlook ini mengupas tuntas berbagai isu global yang akan memengaruhi pariwisata Indonesia. Mulai dari tantangan perubahan iklim yang kian nyata, dinamika geopolitik dunia, hingga transformasi teknologi yang mengubah cara wisatawan merencanakan perjalanan. Tak hanya itu, dokumen ini juga memetakan proyeksi pasar wisata, tren perilaku traveler, serta peluang besar yang bisa diambil oleh destinasi-destinasi di tanah air.
Wamenpar Ni Luh Puspa menyampaikan keyakinannya dengan nada optimistis.
"Saya percaya kita akan go beyond. Dengan segala optimisme ini mudah-mudahan Indonesia bisa leading di sektor pariwisata," ujarnya.
Peluncuran ini sekaligus menjadi momentum bagi Kemenpar untuk mengajak semua pihak bergerak bersama. Pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas lokal, hingga pelaku kreatif didorong memperkuat kolaborasi. Tujuannya jelas: agar pengembangan pariwisata berjalan terarah dan konsisten.
Dengan panduan ini, diharapkan semua pemangku kepentingan punya visi yang sama tentang masa depan pariwisata Indonesia lebih berkualitas, lebih ramah lingkungan, dan lebih bermanfaat bagi banyak orang. Soalnya, masa depan pariwisata bukan cuma soal ramai atau sepi suatu destinasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana destinasi itu dikelola dengan baik, nyaman dikunjungi, dan tetap lestari untuk generasi mendatang.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
16,46 Juta UMKM Manfaatkan Platform LinkUMKM BRI untuk Perluas Akses Pasar dan Naik Kelas
Prabowo: Pendidikan dan Pelatihan di Semua Sektor Kunci Utama Kesejahteraan Rakyat
Kapolri Buka Peluang ASN Isi Jabatan Non-Operasional di Polri
DPR Tunggu Hasil Tim Perumus Apindo-Serikat Pekerja untuk RUU Ciptaker, Target Selesai Oktober