Krisis Kemanusiaan Gaza: 93% Tenda Pengungsi Ambruk Diterjang Hujan

- Minggu, 16 November 2025 | 14:55 WIB
Krisis Kemanusiaan Gaza: 93% Tenda Pengungsi Ambruk Diterjang Hujan

Krisis Kemanusiaan Gaza: Tenda Pengungsi Ambruk di Musim Hujan Pertama

Kondisi pengungsi di Gaza semakin memprihatinkan menyusul datangnya musim hujan pertama. Ratusan tenda penampungan yang menjadi tempat berlindung warga Palestina tidak mampu menahan guyuran air hujan, menyebabkan banyak yang roboh dan sobek. Kejadian ini meninggalkan keluarga-keluarga pengungsi tanpa naungan sama sekali di tengah cuaca yang semakin buruk.

Genangan Lumpur Gantikan Tempat Tinggal

Dalam waktu singkat, tenda-tenda yang sudah lusuh berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan pergerakan anak-anak dan membasahi seluruh harta benda yang berusaha diselamatkan para pengungsi. Ribuan keluarga harus menghadapi babak penderitaan baru setelah sebelumnya mengalami kelaparan dan serangan militer selama dua tahun.

Tanpa infrastruktur yang memadai, warga terpaksa menumpuk batu dan pasir untuk mengangkat alas tidur agar tidak terendam air. Banyak yang berusaha mencari sudut-sudut kering yang tersisa setelah hujan mengguyur wilayah pengungsian.

Banjir Rendam Ratusan Tenda Pengungsi

Pada Jumat pagi, air hujan telah membanjiri ratusan tenda dan tempat berlindung, memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat kritis. Kondisi ini terjadi ketika keluarga-keluarga pengungsi masih terkurung di area sempit di belakang "garis kuning" setelah dilarang kembali ke rumah mereka yang hancur.

Garis kuning merupakan batas penarikan pasukan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang memisahkan wilayah kontrol militer Israel di timur dengan daerah yang boleh diakses warga Palestina di bagian barat. Pasukan Israel seringkali menargetkan warga Palestina yang mendekati garis tersebut meski tidak melintas ke area terlarang.

93 Persen Tenda Dinyatakan Tidak Layak Huni

Kantor media pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 93 persen tenda pengungsian sudah tidak layak huni, setara dengan 125.000 dari total 135.000 tenda. Sebagian besar pengungsi masih bergantung pada tenda-tenda usang untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan kebutuhan dasar dan blokade yang terus berlangsung.

Kisah Pilu Para Pengungsi

Abu Alaa, seorang lansia asal Gaza, mengungkapkan kebingungannya setelah tendanya terendam banjir. "Tenda dan alas tidur penuh air," ujarnya. Rumahnya di Gaza utara telah hancur dan ia tidak diizinkan kembali oleh militer Israel.

Mohammed al-Jarousha menghadapi kesulitan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membeli plastik pelapis untuk melindungi tendanya. "Kami kebanjiran. Kami butuh solusi," keluhnya. "Kami melewati genosida dan sekarang kami menghadapi yang lain lagi."

Kondisi lebih tragis dialami Sabir Qawas yang memiliki putri berusia dua tahun penderita kanker. Tenda tempatnya tinggal ambruk akibat badai, memaksanya hidup di jalanan tanpa kemampuan membeli tenda baru. "Tidak ada organisasi yang datang memberikan bantuan," ujarnya.

Kerusakan Tenda Akibat Perang dan Cuaca

Selama hampir dua tahun perang, puluhan ribu tenda telah rusak akibat serangan udara maupun kerusakan alami akibat panas ekstrem di musim panas dan angin kencang di musim dingin. Situasi ini semakin memperparah kondisi pengungsi yang sudah sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar