Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dinilai Membebani Keuangan Negara
Pakar kebijakan publik dan transportasi, Agus Pambagio, menilai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh warisan mantan Presiden Joko Widodo justru membebani keuangan negara. Agus bahkan mendorong lembaga penegak hukum seperti KPK atau Bareskrim Polri untuk mengusut proyek kereta cepat ini.
Agus menyoroti perbandingan biaya dengan proyek serupa di Arab Saudi. "Hari ini dibandingkan dengan kereta cepat yang lagi dibuat Arab Saudi. Saya bilang ke teman-teman berbeda. Di Arab Saudi mungkin tanahnya nggak beli, di sini kan beli, calonya banyak kali," ujar Agus dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Abraham Samad.
Masalah Pembiayaan dan Skema Utang Kereta Whoosh
Menurut Agus Pambagio, sejak awal proyek kereta cepat ini sarat dengan masalah. Beberapa masalah yang menonjol adalah pembengkakan biaya, perubahan rute, hingga skema utang yang dinilai tidak transparan. Karena itu, ia mendesak agar lembaga audit dan penegak hukum segera turun tangan untuk menelusuri potensi penyimpangan dalam pelaksanaannya.
"Susah kalau mau dibandingkan, nggak apple to apple. Maka saya sarankan KPK masuk saja, atau Bareskrim atau siapa pun review. BPK kan tiap tahun juga mengaudit," tegasnya.
Kritik Proyek KCJB yang Dinilai Tidak Perlu
Agus Pambagio mengingatkan bahwa kritik yang ia lontarkan selama ini bukan tanpa dasar. Menurutnya, keputusan untuk memaksakan proyek kereta cepat tanpa kajian yang matang kini terbukti menjadi beban finansial bagi negara.
"Saya mengingatkan kita itu belum butuh kereta cepat. Apalagi dulu nama semboyannya Nawacita berarti kan harus kelua r Jawa. Tapi kenapa dibikinnya di Jakarta-Bandung?” pungkasnya.
Perbandingan Biaya Kereta Cepat Indonesia vs Arab Saudi
Sebagai perbandingan, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang rutenya hanya 142 kilometer (km) ternyata lebih mahal daripada proyek Kereta Haramain High-Speed Railway (HHR) di Arab Saudi yang rutenya mencapai 1.500 km.
Kereta HHR yang menghubungkan kota-kota suci Makkah dan Madinah itu menelan biaya US$7 miliar, atau sekitar Rp116,2 triliun. Angka ini lebih murah ketimbang proyek Kereta Whoosh yang biayanya mencapai US$7,27 miliar, setara Rp120,7 triliun.
Artikel Terkait
Dudung Bantah Terlibat Susun Pidato Prabowo yang Dikritik Habib Rizieq
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo