Analisis Pasar Otomotif Indonesia 2025: Penjualan Turun 10.6%, Merek China Menguat

- Minggu, 09 November 2025 | 19:30 WIB
Analisis Pasar Otomotif Indonesia 2025: Penjualan Turun 10.6%, Merek China Menguat
Analisis Pasar Otomotif Indonesia 2025: Penjualan Turun 10.6%, Merek China Menguat

Pasar Otomotif Indonesia 2025: Penjualan Mobil Turun 10.6%, Dominasi Jepang Mulai Terkikis

Pasar otomotif Indonesia pada tahun 2025 mengalami perlambatan yang signifikan. Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkap fakta bahwa penjualan mobil baru periode Januari hingga Oktober 2025 hanya mencapai 635.844 unit.

Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 10.6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 yang mampu mencatatkan 711.064 unit.

Penyebab Penurunan Penjualan Mobil Baru

Menurut Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, penurunan ini tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Faktor utama yang mempengaruhi adalah melemahnya daya beli dan dampak dari kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

"Kondisi daya beli dan dampak PPN membuat pasar otomotif cenderung berat tahun ini," jelas Josua.

Prospek dan Harapan Pasar Otomotif 2026

Meski kondisi saat ini berat, terdapat optimisme untuk pemulihan di tahun 2026. Josua Pardede memproyeksikan pasar mobil nasional dapat kembali pulih seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya kembali kepercayaan konsumen.

Peta Persaingan Merek Mobil di Indonesia

Dalam peta persaingan, merek otomotif Jepang masih mendominasi lima besar penjualan. Toyota, Daihatsu, Mitsubishi Motors, Honda, dan Suzuki masih memegang kendali pasar terbesar.

Namun, geliat dari merek non-Jepang, khususnya dari Tiongkok, semakin agresif. Kehadiran mereka paling terasa di segmen mobil listrik yang sedang berkembang. Wuling, BYD, dan Chery adalah beberapa merek China yang kini menjadi pesaing serius.

Dengan masuknya pemain baru dari China dan Korea, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang penuh kejutan, di mana dominasi tradisional Jepang diperkirakan akan menghadapi ujian yang lebih ketat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar